Pengalaman Jadi Editor Freelance di Penerbit Indie, Suka Duka

Kenapa Memilih Menjadi Editor?

Sederhana sih, karena aku berniat membantu penulis (apalagi pemula) untuk memperbaiki naskah mereka, bertukar ilmu terkait kepenulisan dan lain sejenisnya. Mulanya ya, karena aku sendiri suka menulis. Namun, makin lama aku makin jarang bisa menyisihkan waktu untuk menulis (baca: malas dan banyak alasan), jadinya aku memutuskan untuk membantu orang-orang yang suka menulis sepertiku. Seperti bergerak dan membantu di belakang layar, gitu~

penerbit indie

Awal Mulanya

Awal mula jadi editor tuh … karena ada teman yang kencang banget karirnya di dunia tulis menulis sampai akhirnya dia menjadi editor di penerbit indie (sekarang jangan ditanya, dia sudah jadi editor freelance di penerbit indie maupun mayor). Waktu itu kebetulan penerbit tempat dia kerja sedang butuh editor tambahan, dan dia merekomendasikan aku pada pemilik penerbitnya karena dia tahu aku sangat berminat menjadi editor.

Jadi, aku kirim CV dan beberapa tulisanku untuk menjadi bahan pertimbangan CEO-nya. Alhamdulillah, lolos! Waktu itu, aku sendiri benar-benar masih pemula dan belajar jadi editor yang baik. Jujur saja, mungkin tulisanku pada jaman itu juga masih amburadul banget. Namun aku dikelilingi orang-orang baik yang mau membantu dan membimbingku menjadi editor, maka aku bisa belajar dan memperdalam ilmu kepenulisanku hingga saat ini.

Sejak menekuni dunia kepenulisan, aku sudah terbiasa untuk memiliki aplikasi KBBI dan Thesaurus di gawaiku. Saat menjadi editor, nyatanya aplikasi-aplikasi itu juga sangat membantuku untuk mengedit naskah yang kutangani. Well, kalau ada dari kalian yang ingin menjadi penulis, kalian juga wajib memiliki kedua aplikasi itu, ya!

Suka Duka Menjadi Editor

penerbit indie

Dibandingkan ketemu sama naskah yang amburadul tatanannya, editor tuh lebih gregetan kalau ketemu sama penulis yang sikapnya amburadul. Di penerbit indie, biasanya ada dua cara untuk menerbitkan buku, yaitu cara terbit gratis dengan seleksi dan cara terbit berbayar. Nah, Penulis terkadang lupa untuk menjaga sikapnya saat berhadapan dengan editor. Kebanyakan sih, mereka merasa menerbitkan buku dengan cara bayar (di penerbit indie), makanya mereka bersikap seenaknya pada editor dan naskah yang seharusnya mereka edit.

Karena apa? Ya, karena merasa sudah membayar, makanya mereka kira bisa lepas tanggung jawab sama naskahnya.

Kalau boleh curhat, tidak hanya sekali-dua kali aku bertemu dengan penulis yang memiliki sikap seperti ini. Bukan apa-apa, tapi, editor itu kan hanya membantu penulis untuk mengedit naskahnya. Bukan penulis melempar tanggung jawab untuk mengedit naskah sepenuhnya pada editor. Ya kecuali … kalau memang maunya diedit ala kadarnya saja.

Biasanya sih, kalau sudah keterlaluan, si penulis akan di-blacklist oleh penerbit. Mau ikut berbayar ataupun dengan seleksi, sudah susah akan lolosnya. Aku masih ingat, naskah pertamaku adalah antologi cerpen komunitas guru. Di situ juga aku harus memilih naskah terbaik yang ada, agar nama si penulis ditulis paling awal di kovernya. Dari 7 orang yang kuedit naskahnya dalam antologi itu, ada satu orang yang benar-benar mengabaikan kontak dan masukan dariku.

Beberapa naskah kemudian, aku juga bertemu kembali dengan penulis dengan tipe yang sama. Sulit diajak kerja sama, sulit dihubungi dan mengabaikan catatan editor. Padahal naskahnya sangat sangat tidak rapi. Kenapa bisa lolos di penerbit? Ya, karena mereka masuknya lewat jalur berbayar.

Begitulah, dilema editor.

Bagaimana sih Kerja Editor?

Sebenarnya, jenis editor itu ada banyak. Namun, berhubung aku adalah editor freelance, maka kubahas hal sesuai pengalamanku saja, ya.

Menjadi editor freelance, tugasku kadang merangkap sebagai proofreader. Meski kebanyakannya ya, sebagai editor biasa. Membaca naskah, meneliti,  memberikan masukan dan catatan terkait perbaikan naskah.

Masih banyak orang yang kurang paham tentang kerjaan editor. Mereka kira, editor adalah orang yang 100% memperbaiki dan bertanggung jawab atas naskah setelah naskah tersebut selesai ditulis oleh penulisnya. Padahal mah, memperbaiki naskah tetap tugas utama si penulis sampai naskah tersebut layak cetak, dan editor membantu memperbaiki naskah itu dengan memberikan catatan-catatan yang dibutuhkan.

Editor sendiri sebenarnya tidak diperkenankan mengganti ataupun mengubah keaslian naskah, baik isi maupun maksudnya. Paling banter ya, editor memberikan catatan di dalam naskah dan penulis memperbaiki sesuai catatan yang diberikan oleh editornya.

Sebagai tugas tambahanku menjadi editor, pihak penerbit atau penulis kadang meminta pendapatku terkait kover yang pas agar sesuai dengan isi naskah dan menjadi nilai lebih dari buku tersebut. Ada juga editor freelance yang memberikan ide soal  keterangan soal highlight naskah,  ilustrasi di bagian tertentu atau tambahan dan pengurangan lainnya. Meski sebenarnya, keterangan highlight naskah ada baiknya dikerjakan/merupakan ide sendiri dari penulis.

Bayaran Editor Freelance

penerbit indie

Menjadi freelance bagian editor, di berbagai penerbit, bisa bervariasi bayarannya. Awal dulu aku bekerja sebagai editor, per naskah dibiayai sebesar 150 ribu (yah, karena secara kemampuan juga aku masih perlu banyak belajar). Satu naskah, batas waktunya bisa dua bulan. Kalau penulisnya bandel dan naskahnya nggak kelar-kelar, ya bayarannya nggak akan turun. Sedih, deh.

Ada pengalaman dari seorang kawan yang sama-sama editor freelance. Dia menangani satu penulis hampir satu tahun lebih. Kendalanya, ya begitu: penulis slow respond dan mengabaikan catatan yang dibuat editor, sehingga naskah tidak segera layak terbit.

Ada juga bayaran editor per halaman (dengan spasi 1.5 dan ketentuan penerbitan biasa). Ini juga bervariasi, karena yah, tergantung sebanyak apa halaman dan sebesar apa ‘kasus’ yang mau diperbaiki. Apakah edit mayor, atau edit minor?

Bagi kami, yang disebut edit mayor adalah mengedit keseluruhan naskah (memberikan catatan dan lain-lain, maksudnya). Sedangkan, untuk edit minor, kami hanya membantu memperbaiki ejaan yang keliru saja. Beberapa penerbit indie yang memberikan paket penerbitan , biasanya juga memberikan pilihan paket editing apa yang ingin diambil oleh penulis.

Jangan khawatir, bayaran itu akan meningkat sesuai kemampuan kita sebagai editor yang juga terus meningkat. Semisal kita semakin teliti dan detail, sabar menghadapi penulis, maka penerbit juga biasanya berbaik hati meningkatkan bayaran kita. Penerbit awal tempat aku bekerja pun sedikit demi sedikit menaikkan fee yang kuterima. Ya itu tadi, karena semakin lama juga aku semakin banyak belajar.

Berminat Jadi Editor Freelance?

Barangkali, setelah kalian membaca artikel satu ini, kalian berminat juga menjadi editor freelance. Apalagi jika kalian pada dasarnya memang tertarik di dunia kepenulisan. Ini, kukasih sedikit contekan beberapa keahlian yang sekiranya dibutuhkan oleh editor:

  1. Menguasai ejaan: sebagai editor, kita harus paham benar tentang ejaan yang disempurnakan, seperti penggunaan tanda baca, huruf kapital, pemenggalan kata, singkatan, dan lain sebagainya.
  2. Menguasai tata bahasa: seorang editor juga harus punya kapasitas di bidang tatabahasa, yakni semua hal yang menyangkut kata dan kalimat. Jadi, editor harus tahu kalimat yang baik dan benar, kata-kata baku, diksi, dan sebagainya.
  3. Mau belajar: menjadi penyunting naskah, harus mau belajar agar memiliki pengetahuan yang luas. Kita  Ia harus banyak membaca buku, majalah, surat kabar, dan menyerap informasi, sehingga tidak ketinggalan informasi.
  4. Bersahabat dengan kamus:  penyunting naskah tidak mungkin menguasai semua kata dalam satu bahasa tertentu. Jadi, sudah sewajarnya kita bersahabat dengan kamus seperti KBBI ataupun kamus sinonim (Thesaurus).
  5. Teliti dan sabar: membaca naskah yang berantakan maupun yang sudah rapi, jelas membutuhkan ketelitian dan kesabaran, agar nantinya ketika si buku terbit, tidak terjadi hal yang merugikan penerbitnya. Membaca naskah yang amburadul, juga butuh kesabaran, lho 🙁
  6. Peka bahasa: agar tahu mana kata/kalimat yang pantas dipakai dalam naskah, mana yang perlu dihindari dan lain sebagainya.
  7. Memiliki kemampuan menulis:  kalau tidak bisa menulis, mana mungkin kita tahu cara menulis kalimat yang benar. Ya, kan?

Jadi, bagaimana? Tertarik menjadi editor freelance juga?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *