Pengalaman Bekerja Sebagai Pengusaha Ayam Potong: Manfaatkan Lahan Kosong Untuk Menjaring Keuntungan

Tatkala wirausaha sudah menjadi hobi, seakan merasuk dalam jiwa serta mendarah daging, dimana ada lahan yang subur, di situlah aku menanam bibit yang nantinya akan dipanen serta menjadi keuntungan bagiku. Dalam setiap proses mendirikan atau terjun kedalam suatu bidang usaha yang relatif baru bagiku, aku sungguh menikmatinya, bagiku uang memang bukan segalanya, tetapi bisa menjadi salah satu faktor yang menciptakan kepuasan bahkan kebahagiaan, semua usahaku akan aku lakukan sebaik mungkin tanpa mengesampingkan harapan akan keberkahan.

Meskipun lahan yang subur tampak menjanjikan, tetapi dalam pelaksanaannya tidak menghapuskan rintangan-rintangan di dalamnya. Aku seorang pengusaha toko sembako di desa yang cukup ramai dimana rata-rata penduduknya menempati posisi menengah dalam urutan strata sosial. Meskipun tokoku cukup ramai pembeli, tetapi aku merasa terlalu banyak waktuku yang aku gunakan untuk menganggur, hal tersebut yang membuatku berpikir bahwa waktu seperti itu adalah sebuah kesempatan bagiku untuk membuka usaha baru di bidang yang lain agar bisa menambah penghasilanku.

Lamunanku di teras rumah kala itu menghasilkan sebuah ide usaha yang bisa aku lakukan untuk mengisi waktu luangku, usaha kecil yang akan aku kerjakan sendiri karena menurutku pekerjaannya tidak terlalu membutuhkan waktu dan usaha yang besar. Aku berencana untuk menjadi pengusaha ayam potong, setelah berkonsultasi dengan beberapa temanku yang bekerja dalam bidang tersebut seperti pengepul serta pemotong ayam yang sudah pasti lebih tahu dariku yang baru memulai ini.

cerita usaha ayam potong

cerita usaha ayam potong

Sejumlah modal sudah aku persiapkan, kebetulan aku memiliki lahan yang cukup luas di pekarangan belakang rumahku sehingga bisa aku gunakan untuk membuat kandang ayam. Dengan bermodalkan uang sejumlah Rp. 3.200.000 aku membangun kandang ayam bertingkat seluas 4m x 7m dengan tinggi 3 meter. Kandang tersebut dibuat dengan material bambu dengan atap asbes, dalam pengerjaannya dilakukan selama 5 hari oleh dua orang tukang bangunan langgananku. Hatiku tertawa bahagia ketika suatu hari aku melihat kandang ayamku sudah berdiri kokoh, rasanya ada kepuasan tersendiri yang menyelimuti pikiranku.

Kandang ayam sudah dibersihkan, waktunya aku memulainya dengan menyemprotkan satu liter Formalin A secara merata di seluruh bagian kandang dengan menggunakan tangki semprot bertenaga aki. Bagiku pekerjaan seperti itu bukanlah hal yang berat, dalam satu hari sehingga seluruh bagian kandang ayamku sudah steril. Untuk kandang seukuran milikku, aku memutuskan untuk membeli bibit ayam potong berjumlah 300 ekor dengan harga Rp. 5000/ekor. Beberapa saat sebelum membeli bibit ayam, aku terlebih dahulu menyiapkan berbagai alat dan kebutuhan untuk para ayamku yang lucu, aku membeli pakan ayam BR 1 seharga Rp. 337.000/karung, tak lupa untuk membeli tempat pakan dan minumnya sebanyak masing-masing 8 buah dan perbuahnya seharga Rp. 25.000.

Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik, mobil bak terbuka pembawa bibit ayam sudah tiba di depan rumahku, dalam kotak kardus dengan lubang beraturan, bibit ayam potong tersebut seakan sedang berbahagia, mereka sungguh kecil dengan bulu berwarna kuning terang, semoga sama terangnya seperti hasilnya. Seluruhnya dari mereka aku letakkan di dalam kandang kemudian mengeluarkannya dari kotak, mereka berlarian menyambut rumah baru mereka untuk 40 hari kedepan, sebelumnya aku sudah meletakkan pakan serta minuman yang lengkap dengan vitamin pada wadahnya masing-masing.

Delapan karung kulit padi yang aku beli seharga Rp. 5000/karungnya aku letakkan secara merata tepat di bawah kandung ayamku agar kotoran-kotoran ayam yang jatuh mudah dibersihkan dan kemudian bisa dijual atau dimanfaatkan untuk pupuk. Sejak awal hingga bisa dipanen, kotoran yang dihasilkan oleh ayamku dengan jumlah 300 ekor tersebut total 16 karung, cukup banyak memang. Oleh karena itu, ketimbang menjualnya, aku lebih memilih untuk memanfaatkan kotoran ayam tersebut menjadi pupuk di kebun jambu milikku, sehingga aku mendapatkan keuntungan karena tidak perlu membeli pupuk lagi.

Hari demi hari berlalu, di setiap pagi dan sore aku memberikan makan dan minum untuk ayamku, vitamin hanya diberikan di pagi hari yang dalam pemberiannya dicampurkan dengan air minum, sedangkan sore hari hanya diberikan minum air putih saja. Pemberian pakan dari awal hingga panen menghabiskan 7 karung untuk setiap 100 ekor ayam, sehingga untuk 300 ekor ayam hingga panen bisa menghabiskan pakan BR 1 sebanyak total 21 karung.

Hampir sama dengan usaha makhluk hidup yang lain seperti ikan dan lain sebagainya, memelihara ayam potong berjumlah 300 ekor tidak akan semuanya bisa bertahan hidup hingga dipanen, dalam pengalaman pertamaku tersebut, dari 300 ekor ayam hingga 40 hari ada 13 ekor ayam yang mati sehingga tersisa 287 ekor, angka tersebut bisa saja berbeda dalam setiap penebaran bibit karena ada banyak faktor yang menyebabkan ayam bisa mati contohnya karena sakit. Dalam beberapa kasus, aku menemui sebagian kecil ayamku yang murung, nampak kurang sehat dengan suara kokok yang agak serak, belakangan aku ketahui bahwa ayam tersebut pilek, setelah mencari tahu di berbagai sumber, aku memberikan obat bernama Tetacore dengan mencampurkannya pada minumnya hingga sembuh.

40 hari sudah usia ayam-ayamku, 287 eko ayamku nampak sehat dan gemuk, dengan bobot rata-rata 1,7 kilogram hingga 2 kilogram, artinya mereka sudah siap untuk dijual. Aku menghubungi seorang teman yang bekerja sebagai pengepul ayam, semua ayamku aku jual kepadanya kemudian nantinya akan didistribusikan kepada para pembeli maupun pemotong ayam. Ia menimbang seluruh ayamku dengan berat total 574 kilogram. Ayam yang dijual harganya akan menyesuaikan harga pasar, rata-rata pada rentang harga Rp. 17.000/kilogram hingga Rp. 21.000/kilogram. Sedangkan saat itu harga pasar sedang tinggi, membuat semua ayamku terjual dengan harga Rp.21.000/kilogram. Semua ayam yang selama ini aku rawat sudah dipanen dan laku terjual, aku berharap semua pihak senang, sedangkan untuk mulai menebar bibit ayam selanjutnya butuh waktu selama 20 hari agar kandang ayam tersebut cukup kering kemudian bisa digunakan kembali.

PENGHASILAN

Keuntungan hasil usaha ayam potong baru bisa dirasakan setelah beberapa kali panen untuk menutup biaya pembuatan kandang, dan persiapan lainnya saat pertama kali. Tetapi saat pertama kali aku memanen, berdasarkan kebutuhan yang sudah aku jelaskan diatas, berikut aku kalkulasikan secara rinci :

  • Harga 300 ekor bibit ayam : 300 x @Rp. 5000 = Rp. 1.500.000
  • Harga Pakan Ayam BR 1 Untuk 300 Ekor : 21 x @Rp. 337.000 = Rp. 7.077.000
  • Harga Formalin A : Rp. 27.000/liter
  • Harga Kulit Padi : 8 x Rp. 5000 = Rp. 40.000

Modal setiap 300 ekor ayam potong hingga panen adalah sebesar Rp. 8.644.000

Sedangkan untuk hasil penjualan ke pengepul saat ayam di panen dapat dikalkulasikan sebagai berikut:

  • Berat total ayam : 574 kilogram.
  • Total penghasilan kotor : 574 kilogram x Rp.21.000 = Rp. 12.054.000
  • Total penghasilan bersih : Rp. 12.054.000 – Rp. 8.644.000 = Rp. 3.410.000

TIPS BEKERJA SEBAGAI PENGUSAHA AYAM POTONG

  • Mulai dengan niat yang sungguh-sungguh serta modal yang cukup.
  • Rawat ayam dengan telaten, beri makan dan minum secara rutin agar mereka semua bisa sehat dan gemuk sehingga bisa dijual dengan harga yang mahal.
  • Rajin memberihkan kandang ayam secara rutin agar kebersihan tetap terjaga sehingga ayam-ayamnya tidak stress. Poin ini harus ditekankan juga karena kebersihan akan mempengaruhi banyak hal contohnya muncul banyak lalat di sekitar kandang, terlebih terhadap kandang ayam seperti milikku yang berada di tengah pemukiman padat penduduk.

Demikianlah cerita tentang pengalamanku menjadi pengusaha ayam potong, meski ayam yang aku pelihara relatif sedikit, tetapi lumayan untuk menambah aliran keuntungan untuk kantongku. Semoga cerita ini bermanfaat bagi para pembaca dan tentunya semoga berkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *