Pengalaman Kerja Sebagai Petani Jambu Biji Merah: Kerja Santai Keuntungan Terus Mengalir

By | Agustus 9, 2020

Merah manja dengan rasa manis nan segar, aku memakan sebuah jambu merah yang sudah matang, karena kadar air yang cukup tinggi dalam buah tersebut, cukup meredakan rasa hausku ketika memakannya di tengah hari yang sangat terik saat itu. Beberapa waktu lalu saat membelinya di toko buah langganan ku, si penjual bercerita bahwa saat itu sedang tinggi-tingginya permintaan pelanggan terhadap stok jambu merah di pasaran, panjang lebar ia membagikan cerita bahagianya kepadaku, namun aku tak kaget mendengarnya.

Menurutku adalah hal yang wajar jika di musim kemarau permintaan stok buah jambu merah di pasaran melonjak dengan harga yang cukup tinggi. Selain karena musim kemarau, alasan lain yang membuat konsumsi jambu merah di masyarakat tak pernah habis adalah segudang manfaat yang dibawa dalam buah tersebut. Menurut beberapa artikel kesehatan yang aku baca di internet mengatakan bahwa jambu merah mengandung berbagai nutrisi yang baik bagi tubuh antara lain Vitamin A, Vitamin C, Asam Float, Vitamin B6, Vitamin B3, bahkan Magnesium.

jambu biji merah

jambu biji merah

Salah satu kepercayaan tentang jambu merah yang hingga kini berkembang di masyarakat adalah berbagai manfaat yang mereka percaya, seperti Jambu merah dapat mengobati diare, sehingga hal tersebut juga menjadi salah satu faktor banyaknya permintaan jambu merah.

PREPARE & ACTION!

Seperti biasa, ketika melihat ada lahan yang subur, aku mulai mempertimbangkan untuk terjun ke dalamnya untuk menjadi petani jambu biji merah, tak perlu diperjelas alasannya, karena aku merasa usaha tersebut berpotensi mendatangkan keuntungan yang lumayan untuk mengisi aliran pemasukan ke dompetku. Langkah awalku untuk memulainya adalah melakukan riset ala kadarnya mengenai jambu biji merah yang meliputi harga jambu dari petani, harga pasar untuk konsumen, biaya, hingga prosedur menanam, merawat, dan memanennya.

Sembari memahami ilmu yang relatif baru bagiku, aku juga mulai mencari lahan yang ideal, yaitu lahan yang cocok ditanami jambu biji merah, dan tentu saja lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sehingga aku dapat dengan mudah memantau perkembangan kebun jambuku. Munir, seorang petani yang juga temanku menawarkanku sebuah lahan untukku, ia jujur mengatakan padaku bahwa ia berperan sebagai makelar penjualan lahan yang ia tawarkan untukku, bagiku itu tidak masalah, karena sejatinya tiap manusia akan saling membutuhkan satu sama lain.

Lahan perkebunan tersebut memiliki luas ¼ hektare atau 2500 meter persegi, ditawarkan kepadaku dengan harga Rp. 115.000.000, Munir juga menjelaskan bahwa lahan tersebut sudah dikelilingi pagar bambu dengan tanaman sehingga dirasa lebih aman, aku mengangguk sebagai respon bahwa aku memahami penjelasannya. Tak lengkap rasanya jika ada suatu transaksi tanpa negosiasi, meski aku merasa harga tersebut setimpal dengan apa yang akan aku dapat, aku mengajukan penawaran kepadanya dengan mengatakan bahwa aku akan membayar tunai dengan harga Rp. 112.000.000, Munir setuju kemudian menghubungi pemilik lahan, transaksi pun terjadi hari itu juga.

Perlu diketahui bahwa sebelumnya aku sempat melakukan survey di beberapa lokasi lahan termasuk lahan yang Munir tawarkan kepadaku sehingga aku sudah memiliki pandangan mengenai lahan tersebut. Semua pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut menyatakan deal atas pembeliannya, semua berkas pengalihan hak milik sudah selesai diurus. Akhirnya, aku dapat memulai usaha baruku.

Beberapa hari berlalu, setelah melaksanakan ibadah sholat shubuh, aku berangkat menuju lahan perkebunan yang akan kumulai, tebalnya embun pagi seakan memberi semangat kepadaku, aku menyusuri jalanan desa yang masih gelap dan cukup sepi. Dalam mengelola kebun jambu biji merahku ini, aku banyak melibatkan jasa buruh tani yang tinggal di sekitar lahanku. Fajar mulai terlihat di ufuk Timur, seakan menyambutku yang baru saja tiba di kebun, seluruh tanah dalam kebun tampak teracak-acak beraturan, artinya para buruh tani yang aku guanakan jasanya sudah selesai membajak tanah disana, jadwal hari itu adalah membuat gundukan yang nantinya akan ditanamin bibit jambu biji merahnya, empat orang buruh tani datang dan menyapaku, mulai bekerja sambil membicarakan terkait keadaan kebunku yang sedang mereka kerjakan.

Aku berencana menanam pohon jambu biji merah sebanyak 85 pohon di lahanku yang berukuran 2500 meter persegi, jumlah tersebut aku dapatkan setelah hasil konsultasi dengan beberapa temanku yang pernah menjadi petani jambu biji merah juga. Aku menggunakan jasa empat orang buruh tani tersebut selama tiga hari untuk membajak, membuat gundukan, serta menanam bibit pohon jambu biji merah, selama sehari mereka hanya bekerja selama kurang lebih 6 jam saja. Aku melihat mereka sangat kompeten mengerjakan tugasnya, cukup puas dengan kinerjanya.

Pada hari berikutnya mereka mulai menanam bibit jambu biji merah yang telah aku beli di salah satu toko bibit buah dengan harga Rp. 15.000 /bibit. Penanaman bibit saat musim hujan sungguh menguntungkan bagiku karena tak perlu repot menyiramnya tiap minggu sehingga dapat menghemat biaya operasional. Sebulan sudah kebunku disirami oleh hujan yang datang hampir setiap hari, saat itu adalah waktu yang tepat untuk memupuk tiap pohon yang aku tanam. Pupuk yang aku gunakan saat itu adalah pupuk kompos yang aku beli dengan harga Rp. 11.000/ kilogram, ketika pohon masih berumur sebulan, aku memberinya pupuk sebanyak 2 kilogram saja, tidak lebih dari itu karena bisa menyebabkan pohon menjadi kurang sehat atau bahkan mati.

KEUNTUNGAN MULAI TERLIHAT DAN TERUS MENINGKAT

Dengan telaten aku merawat kebunku, menyiramnya seminggu sekali, serta memupuknya sebulan sekali. Pada usia pohon jambu menginjak 5 bulan, mereka semua mulai berbuah meskipun sedikit, tapi bagiku itu lampu hijau yang mengisyaratkanku untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. Pada usia pohon 5 bulan tersebut adalah panen pertamaku, hasil buahnya hanya 15 kilogram yang setelah dijual laku dengan harga Rp. 4000/ kilogram, sehingga jika dijumlahkan aku mendapatkan Rp. 60.000, sedikit memang, tapi memang begitulah seharusnya.

Mencari pundi-pundi keuntungan dengan cara berkebun tidak bisa didapat dengan instan, sehingga perlu proses serta harus melewati beberapa tahapan. Aku mulai mendapatkan keuntungan yang terbilang lumayan ketika usia pohon jambu biji merahku berusia 1 tahun, panen saat itu kebunku menghasilkan 2 kwintal atau 2000 kilogram jambu biji merah dan dijual dengan harga Rp. 5000/kilogram, sehingga dapat dikatakan aku menghasilkan Rp. 10.000.000 sekali panen, angka tersebut tentu bukan hasil bersih, karena juga butuh modal yang digunakan untuk memanen buah jambu biji merah sebanyak itu.

Bulan-bulan selanjutnya, buah di kebunku dapat dipanen 2 hingga 3 bulan sekali dengan hasil yang signifikan. Meski begitu, aku tidak selalu untung dalam usaha tersebut, kadang ada kalanya muncul kendala berupa hama yang menyerang seperti tikus, belalang, hingga lalat buah yang menggerogoti buah dan daun di kebunku sehingga aku harus mensiasati hal tersebut dengan melakukan penyemprotan pestisida atau membungkus tiap-tiap buah dengan plastik. Selain itu, kerugian akan terasa jika harga pasar dari petani yang relatif rendah.

PENGHASILAN

Seperti yang sudah aku singgung diatas, aku baru mulai merasakan keuntungan sejak 1 tahun setelah bibit ditanam di lahanku, rinciannya ketika aku dapat memanen 2000 kilogram buah, dan laku di harga Rp. 5000/kilogram, maka akan menghasilkan Rp. 10.000.000/panen, dipotong dengan biaya pupuk sebesar setahun pertama yaitu Rp. 22.000/bulan, biaya jasa buruh tani Rp. 35.000/orang/6 jam, serta kebutuhan lain, sehingga dapat dikatakan aku mendapatkan untung bersih sebesar Rp. 600.000/ kwintal. Jumlah tersebut tentu bisa ditingkatkan lagi dengan cara meminimalisir penggunaan jasa buruh tani dalam pengerjaan.

 TIPS MENJADI PETANI JAMBU BIJI MERAH

  • Persiapkan modal yang cukup berupa lahan ilmu pengetahuan, serta biaya yang dibutuhkan selama penanaman, perawatan, serta pemanenan.
  • Selalu biasakan negosiasi dalam bertransaksi agar bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Sebagai catatan, dalam melakukan negosiasi harus dengan dasar yang jelas dan masuk akal, hal tersebut sebagai upaya untuk menghargai orang lain.
  • Sabar dan telaten dalam mengurus hal-hal yang berurusan dengan kebun.
  • Meminimalisir penggunaan jasa buruh tani agar keuntungan yang didapan bisa lebih besar.
  • Ikhlas dan menikmati.

Demikian cerita pengalamanku bekerja sebagai petani jambu biji merah yang sudah aku jalani selama 5 tahun hingga tulisan ini ada. Semoga cerita pekerjaanku bisa menjadi pandangan bagi para pembaca yang berencana terjun menjadi petani jambu biji merah, semoga bermanfaat dan berkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *