Bagiaman Rasanya Melahirkan Anak Pertama Secara Normal? Ini Pengalamanku

Setiap wanita yang telah menikah pasti mendambakan kehadiran seorang anak dalam kehidupan rumah tangga nya. Tak terkecuali aku dan suamiku. Tepat saat menginjak usia pernikahanku 3 bulan, aku telah diberi anugerah itu. Namun sayang, janin itu tak bertahan lama di kandunganku.

Aku harus merelakan bayiku saat usia janinku 2 bulan. Setelah proses kuret, dokter memberitahuku untuk tak hamil dulu selama 3 bulan ke depan. Dan aku bersyukur Allah memberiku kesempatan kedua tepat 6 bulan

Awal Kehamilan

Tak pernah terlintas dipikiranku jika aku hamil saat itu karena aku merasa lemas, tensi darahku turun hingga membuatku tak bisa melakukan aktivitas apapun. Aku hanya mampu berbaring lemah di tempat tidur. Aku pun mencoba melakukan tes menggunakan alat uji kehamilan dan kulihat 2 garis merah sebagai hasilnya.

Setelah mengetahui bahwa aku hamil, aku pun merasakan yang namanya morning sickness. Setiap kali memakan sesuatu, aku memuntahkan semuanya. Tetapi aku bersyukur karena tak memerlukan penanganan medis.

Baca juga : Pengalaman Melahirkan Normal dengan BPJS, Baca Ceritaku!

Sumber : Kompasiana.com

Perjalanan Selama Masa Kehamilan

Tiga bulan kemudian morning sickness ku berakhir dan aku mulai makan segala hal agar janinku sehat. Setelah aku kuat melakukan aktivitas lagi, aku kembali bekerja di sebuah pabrik. Senam hamil pun aku lakukan setiap pagi setelah memasuki usia kehamilan 5 bulan.

Sumber : Momlovesbest.com

Hal ini dikarenakan aktivitas bekerja di pabrik telah menyita banyak waktu ku hingga tak sempat melakukan olahraga ataupun mengepel lantai rumah. Saat memasuki usia 8 bulan, aku melakukan senam yoga untuk ibu hamil dengan harapan aku dapat melakukan persalinan dengan lancar.

Sumber : hallosehat.com

Beberapa bulan telah ku lalui, aku bersyukur karena janin dalam kandunganku tidak mengalami masalah. Sehingga aku memutuskan untuk melahirkan secara normal.

Dengan segala pertimbangan, aku memilih melahirkan di sebuah puskesmas di daerah tempat tinggal ku bersama suami, yaitu di Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Di puskesmas itu, aku ditangani oleh seorang bidan dan 2 orang bidan praktek.

Proses Melahirkan

Saat itu hari Jumat pagi, perutku terasa mulas dan mulai timbul flek walau masih sedikit. Aku ingat pada kata-kata bidan untuk kontrol jika timbul flek, jadi aku memutuskan untuk berangkat ke bidan sambil membawa perlengkapan melahirkan.

Namun, setelah di cek oleh bidan ternyata aku baru mengalami pembukaan 1. Mungkin aku yang terlalu semangat hehe. Akhirnya aku kembali pulang dengan perlengkapan persalinan.

Bidan hanya memberikan saran padaku untuk kembali menemui beliau jika kontraksi makin intens dan flek yang muncul makin banyak. Aku menuruti apa kata bidan, walaupun sekitar jam 15:30 aku merasakan kontraksi yang sangat intens namun flek yang timbul masih sedikit.

Sepanjang waktu itu, aku menahan kontraksi yang rasanya sangat sakit. Aku mencoba mengalihkan pikiran tentang rasa sakit dengan memakan banyak buah naga. Suamiku membantu mengurangi rasa sakit dengan mengelus pinggangku dan ini terbukti meringankan kontraksi.

Sekitar pukul 17:00 aku merasa sangat mengantuk, namun aku dilarang tidur oleh ibu ku. Aku menahan rasa kantukku hingga sekitar pukul 18:00 kontraksi makin rapat. Setelah melangsungkan shalat maghrib, aku bersama suami berangkat ke bidan untuk memeriksakan kondisi ku.

Ternyata aku masih ada di posisi pembukaan satu. Akan tetapi, bidan memintaku untuk berangkat ke puskesmas. Sesampainya di puskesmas sekitar pukul 19:00, badanku lemas dan ternyata tensiku turun. Hal ini mengakibatkan aku harus mendapatkan perawatan dengan dipasang infus dan diminta makan yang banyak.

Padahal aku sudah tak nafsu makan karena lemas dan kontraksi yang sakit. Suamiku membantu menyuapkan teh manis dan mie agar aku tetap memasukkan makanan dalam perutku.

Baca juga : Tunggu! Jangan Buang teh Basi, Ini Manfaatnya Untuk Kesehatan

Detik-detik Melahirkan

Setengah jam kemudian, kontraksi terasa makin menjadi-jadi, terasa ada yang merembes (ternyata air ketuban) serta ada perasaan pengin mengejan tanpa bisa dikontrol. Pengetahuan yang ku dapatkan dari instagram berguna pada saat ini.

Aku pernah membaca jika perasaan ingin mengejan ini harus ditahan sambil mengatur nafas. Sehingga aku mencoba menahan keinginan pengin mengejanku dan atur nafas.

Sementara itu, aku melapor ke petugas yang menanganiku untuk dilakukan pengecekan. Petugas tersebut, yang notabene perempuan, memasukkan dua jarinya ke vaginaku sehingga diketahui bahwa aku telah mengalami pembukaan 4. Posisiku saat itu miring di atas tempat tidur dan suamiku dengan sabar mengelus pinggangku.

Sampai disini aku hanya diberitahu untuk tetap minum teh manis dan mengatur nafas serta dilarang untuk mengejan. Kontraksi yang timbul semakin intens dan tak tertahankan.

Namun larangan untuk mengejan membuatku harus menahannya dan berakhi dengan menjambak suamiku. Maafkan aku ya suamiku. Kemudian bidan yang menanganiku pun datang.

Ia memeriksa keadaanku lalu memberitahu bahwa aku sudah mengalami pembukaan 6. Suamiku masih mengelus pinggangku sementara aku tetap menjambak rambutnya.

Setelah itu, aku merasakan rembesan sehingga suamiku memanggil lagi bidan tersebut. Bidan mengecek dan ternyata memang sudah pembukaan lengkap, yaitu 10. Bidan dan petugas yang lain mengatur tempat agar aku bisa berada di posisi siap untuk mengeluarkan sang bayi.

Baca juga : Pengalaman Cara Hamil Kembar, Ini Kalau Mau Punya Anak Kembar!

Proses Bayi Keluar dari Rahim

Sumber : bidankita.com

Setelah kepala bayi mulai terlihat, aku diminta mengejan sambil tetap atur nafas. Aku mengejan sangat lama dan bayi tak kunjung keluar, akhirnya bidan mengambil tindakan menggunting daerah perineumku.

Oh ya, perineum adalah daerah diantara vagina dan anus. Kepala bayi pun keluar dari perutku setelah proses pengguntingan lalu badan bayi ditarik dan rasanya sangat lega. Bayiku lahir tepat pukul 19:50  dengan berat 3,3 Kg dan panjang 47 cm.

Aku bersyukur karena bayiku sehat dan tidak kekurangan suatu apapun. Keeseokan harinya aku diperbolehkan pulang ke rumah bersama bayiku.

Cerita ku mungkin cerita biasa diantara sekian banyak cerita perjuangan seorang ibu yang melahirkan secara normal. Namun ku harap pengalamanku bisa memberikan gambaran untuk ibu hamil diluar sana sebelum melalui proses melahirkan secara normal.

Tinggalkan komentar