Pengalaman Melahirkan Normal dengan BPJS, Baca Ceritaku!

Tak terasa 11 bulan sudah aku resmi menjadi seorang ibu dari anak perempuan yang menggemaskan. Aku tiba-tiba teringat bagaimana proses kehamilan dan persalinan yang ku alami. Hingga rasanya aku ingin menuliskan kisah itu disini agar aku tak melupakan momen emas itu.

Aku melahirkan di sebuah puskesmas di dekat tempat tinggal-ku, yaitu di Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Alasan dibalik pemilihan tempat ini salah satunya karena aku ingin memanfaatkan fasilitas BPJS.

Namun pengalaman ini mungkin menjadi pengalaman yang sedikit mengecewakan bagiku dan dapat ku jadikan pelajaran untuk kelahiran anakku yang selanjutnya. Ups! Aamiin…

Proses Kehamilan

Cerita akan ku mulai dari proses kehamilanku yang telah menginjak 9 bulan. Sejak memasuki bulan ke-5, aku mulai rajin melakukan senam untuk ibu hamil. Kemudian mulai memasuki bulan ke-8, aku melakukan yoga untuk ibu hamil di rumah.

Berbekal video di youtube, aku pun mengunduh video yoga yang menarik minatku. Ku lakukan hampir setiap pagi dengan harapan bayiku tak mengalami masalah berarti dan aku bisa melahirkan dengan normal.

Alhamdulillah semua usaha ku berbuah manis. Bayi dalam kandunganku dalam posisi yang normal dan aku pun semakin berdebar-debar menantikan sang jabang bayi lahir ke dunia ini. Tepat 9 bulan 10 hari, aku mengalami mulas yang disebut sebagai kontraksi sejak pagi hari disertai munculnya sedikit flek.

Aku ditemani suami, berangkat ke bidan dekat rumahku serta membawa perlengkapan melahirkan. Ketika selesai diperiksa oleh bidan, aku pun diminta kembali ke rumah karena masih mengalami pembukaan satu.

Bidan pun berpesan untuk kembali lagi saat kontraksi yang ku alami makin intens dan flek yang muncul makin banyak. Semua pesan ini ku ingat dalam pikiranku, bahkan saat dirumah beberapa jam kemudian, aku merasakan kontraksi yang lebih sakit dari tadi pagi pun aku hanya menunggu dirumah.

Baca juga : Bagiaman Rasanya Melahirkan Anak Pertama Secara Normal? Ini Pengalamanku

Proses Melahirkan

Setelah waktu menunjukkan pukul 17:00, aku merasa sangat mengantuk dan kucoba untuk menahannya. Tepat selepas shalat maghrib, aku merasakan kontraksi yang tak berkesudahan. Aku pun berangkat ke tempat bidan bersama suami. Namun ternyata, aku masih mengalami pembukaan satu.

Akan tetapi, bidan tidak menyuruhku pulang melainkan langsung ke puskesmas tempat aku melahirkan. Aku ingat, saat itu aku sangat lemas karena tekanan darahku menurun. Kondisi ini mengharuskanku mendapatkan perawatan, yaitu diinfus.

Petugas pembantu bidan pun menyuruhku untuk makan agar aku mendapatkan tenaga. Jujur kontraksi dan keadaan lemas ini membuatku tidak nafsu makan. Aku bersyukur karena suami ku sabar menemaniku. Dia lah yang menyuapi mie dan teh hangat untuk mengembalikan staminaku. Romantis, kan? Hehehe.

Baca juga : Ingin Jadi MC Wedding yang Hebat? Baca Dulu Tipsnya Di sini

Tak lama setelah itu, aku merasa ada yang merembes dan ternyata itu adalah air ketuban. Bidan pun memeriksa kondisiku, aku telah mengalami pembukaan 4. Tetap meminum teh hangat, rasa mengejan tiba-tiba muncul tanpa bisa ditahan.

Aku mencoba menahan sekuat tenaga sambil mengatur nafas. Kemudian aku merasakan rembesan lagi dan benar saja aku telah mengalami pembukaan lengkap. Akhirnya bidan pun mengatur posisi ku.

Sumber : oshigita.wordpress.com

Sepengetahuanku, aku boleh menentukan posisi yang paling nyaman untuk mengeluarkan bayi. Namun sayangnya, bidan dan petugas di puskesmas seakan ‘memaksa’ku untuk berada di posisi itu.

Aku pun pasrah dan tetap mengatur nafas serta tak diperbolehkan mengejan terlalu kuat. Setelah aku sedikit mengejan, kepala bayi pun mulai muncul.

Aku mengejan lagi dan lagi, namun bayi ku tak kunjung keluar. Tiba-tiba perineum ku digunting oleh bidan untuk mengeluarkan bayi. Benar saja, setelah perineum dipotong bayi bisa keluar dengan lancar.

Tangisan bayi pun menggema di seluruh ruangan. Aku terharu karena menyadari aku telah menjadi seorang ibu.

Baca juga : Pengalaman Cara Hamil Kembar, Ini Kalau Mau Punya Anak Kembar!

Suka Duka Menjadi Pasien BPJS

Namun sayangnya, aku mulai mendapatkan pelayanan yang tak mengenakkan mulai dari sini. Bayiku tak dimandikan sesaat setelah keluar dari rahimku.

Mereka hanya membersihkan bayiku dengan kain dan beralasan sudah malam saat kutanya mengapa bayiku tidak dimandikan. Mereka pun berkata jika besok pagi akan dimandikan. Aku tak mendebat mereka karena aku mengira bahwa mereka pasti lebih tahu daripada aku.

Kenyataan berbicara lain, keesokan pagi bahkan hingga aku pulang bayiku tidak dimandikan sama sekali. Aku menjadi bertanya-tanya, namun aku tak ingin bertengkar dan tetap mencoba berpikir positif.

Jam 14:00 aku diizinkan untuk pulang. Sejak awal masuk puskesmas, suami ku telah mendaftar menggunakan BPJS. Jadi kami berfikir bahwa kami hanya perlu menyelesaikan urusan administrasi. Tak dinyana petugas administrasi meminta suamiku membayar uang sebesar Rp 550.000,00.

Tak ada penjelasan yang pasti kegunaan uang itu. Karena aku pun merasa tidak menggunakan fasilitas berlebih yang mengharuskan aku membayar biaya tambahan. Hingga saat aku meminta kuitansi pembayaran, mereka meminta kami kembali esok pagi.

Pada akhirnya petugas administrasi hanya memberikan kuitansi dengan keterangan bahwa biaya tersebut digunakan untuk perawatan bayi. Sepengetahuanku dari pengalaman teman-teman, persalinan di sebuah rumah sakit akan tetap mendapatkan kuitansi dengan detail pembayaran seperti pembayaran tenaga kesehatan atau obat-obatan yang digunakan.

Kejadian yang tidak mengenakkan, tetapi aku mencoba berfikir positif dan yang terpenting anakku dalam keadaan baik-baik saja.

Pelajaran berharga bagiku untuk memilih tempat melahirkan yang memberikan fasilitas dan pelayanan terbaik. Yaa namanya anak pertama jadi pengalaman pertama. Mohon dimaklumi hehe.

Begitulah sedikit cerita ku tentang melahirkan anak pertama menggunakan BPJS. Aku tidak bilang bahwa menggunakan BPJS itu tidak enak, tetapi masih ada oknum-oknum yang menyalahgunakan fasilitas negara untuk kepentingan dirinya sendiri.

Sehingga saranku lebih baik mencari tahu sebanyak mungkin sebelum memutuskan tempat melahirkan.

Tinggalkan komentar