Pengalaman Jadi Korban Penipuan Modus Baru, Mahasiswa Harus Waspada!

By | Februari 12, 2020

Bukan rahasia lagi bahwa tindak kejahatan penipuan telah merajalela sejak lama. Namun, semakin berkembangnya zaman, muncul modus-modus baru penipuan yang semakin meresahkan. Bicara tentang penipuan, ini lah pengalamanku dan juga teman-temanku yang menjadi korban penipuan.

Pengalaman Teman Dekat Menjadi Korban Penipuan

Menjadi mahasiswa baru, tentu banyak keresahan yang kerap menghampiri. Namun, siapa sangka bahwa musibah berupa penipuan menjadi pengalaman dalam babak awal kehidupan perkuliahan.

Peristiwa ini terjadi di tahun 2017, saat statusku masih mahasiswa baru. Aku dan beberapa teman seperantauan mulai menjalin kedekatan hingga saling menguatkan. Sampai di suatu malam, saat aku tengah belajar di asrama, salah satu temanku menelepon. Yang membuatku kaget, ia meneleponku sambil menangis dan meminta tolong.

Ternyata, temanku ini baru saja menjadi korban penipuan. Tanpa pikir panjang, aku segera menghampirinya di ATM yang tak jauh dari asrama dan juga kampus. Di sana, rupanya dua orang temanku yang lain sudah datang. Dengan diiringi tangis, ia pun menceritakan apa yang baru menimpanya.

Baca juga : Pengalaman Diet Keto Satu Bulan, Begini Hasilnya!

Kronologi Kejadian

Kejadiannya terjadi sangat cepat, dan yang membuatku heran, semua ini ada di momen yang tepat. Temanku, sebut saja namanya Nabila, ia baru saja mendapat pengumuman bahwa video yang ia buat bersama timnya lolos ke babak final kompetisi. Itu berarti, ia harus pergi ke Bogor untuk menghadiri babak final.

Sehabis maghrib, Nabila dihubungi oleh Bagas melalui SMS, kakak tingkat yang juga merupakan ketua tim videonya. Ia menghubungi Nabila dan berniat meminjam uang karena ibunya belum mengirimkan uang. Bagas meminta Nabila untuk buru-buru mengirimkan uang ke rekeningnya, dan Nabila pun tidak menaruh curiga sedikit pun pada permintaan Bagas.

Nabila berpikir bahwa uang yang dipinjam Bagas akan digunakan untuk mengurus paket penginapan saat mereka menghadiri babak final nanti di Bogor. Sampai akhirnya Nabila mulai curiga, karena Bagas meminta maaf melalui grup chat whatsapp karena baru aktif, sebab ponselnya kehabisan baterai.

Langsung saja Nabila panik dan menghubungi Bagas melalui whatsapp, menanyakan apakah uang yang ia transfer sudah masuk atau belum. Bagas pun bingung karena ia tidak merasa meminta uang pada Nabila. Akhirnya, terungkap lah bahwa Nabila telah menjadi korban penipuan oleh orang yang mengaku sebagai Bagas.

Lapor ke Kantor Polisi

Nabila menangis sesenggukan ketika aku datang ke ATM. Ia sudah ditemani oleh Bagas dan dua orang teman satu grup kami. Tak mau menunda lagi, kami pun memutuskan untuk melaporkan kejadian ini ke kantor polisi.

Nabila dan Bagas dimintai keterangan. Setelah menceritakan kronologi dan juga kerugian yang dideritanya, Nabila menghampiriku dan teman-teman yang lain untuk berterimakasih karena telah membantunya.

Penipuan Terus Berlanjut

Kabar tentang kasus penipuan yang menimpa Nabila menyebar begitu cepat di lingkungan kampus. Sampai akhirnya, beberapa mahasiswa mulai berani bicara, bahwa mereka juga dihubungi oleh nomor yang sama dengan penipu Nabila. Ada pula yang dihubungi dengan nomor lain, namun dengan modus yang sama.

Melihat banyaknya mahasiswa yang hampir menjadi korban, Nabila pun membuat postingan di media sosialnya menceritakan kejadian penipuan yang menimpanya, serta himbauan bagi para mahasiswa agar waspada terhadap nomor tidak dikenal yang menghubungi.

Modus Penipuan Terungkap

Melihat banyaknya mahasiswa yang hampir menjadi korban, kami menemukan kesamaan dari para mahasiswa yang dihubungi oleh pelaku penipuan. Nabila dan Bagas adalah anggota dari salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sama. Dan saat ini, mereka tengah diamanahi menjadi humas suatu acara, dimana nomor telepon mereka tercantum pada poster acara.

Begitu juga dengan mahasiswa lain yang nyaris menjadi korban, mereka juga berperan sebagai humas yang membuat nomor telepon mereka dicantumkan dalam poster sebagai contact person. Setelah menyadari hal itu, sejak kejadian penipuan Nabila, semua mahasiswa yang diamanahi sebagai humas diminta untuk lebih waspada.

Penipuan Kembali Terjadi

Satu tahun berlalu sejak peristiwa penipuan yang menimpa Nabila, warga kampus kembali diresahkan oleh modus penipuan baru. Kali ini korbannya adalah mahasiswa baru yang ditugaskan sebagai humas.

Sebagai mahasiswa baru, sepertinya kisah penipuan yang menimpa Nabila di tahun sebelumnya belum terdengar di telinganya. Sebut saja namanya Devi. Devi baru saja ditugaskan sebagai koordinator humas acara yang aku ampu sebagai wakil ketua.

Devi mengaku bahwa ia baru saja menjadi korban penipuan setelah mengirimkan pulsa senilai ratusan ribu rupiah. Kronologisnya, ia mendapatkan SMS dari seseorang yang mengaku bahwa ia adalah dekan fakultas kami dan minta dikirimkan pulsa karena sedang bepergian dan tidak bisa membeli pulsa sendiri.

Mulus sekali, awalnya sosok yang mengaku sebagai dekan fakultasku bertanya pada Devi, adakah teman yang menjual pulsa. Setelah terjawab bahwa ada teman yang berjualan pulsa, barulah ia meminta untuk dikirimkan pulsa dan berjanji untuk menggantinya ketika kuliah besok.

Devi baru sadar bahwa ia telah tertipu setelah melihat keanehan pada SMS yang dikirimkan, dimana penipu tersebut menyebut nama dosen disertai gelar. Sebuah hal tak biasa yang dilakukan oleh dekan ketika menghubungi mahasiswanya.

Pelajaran Berharga yang Dapat Dipetik

Kejadian yang menimpa Devi hampir saja menimpaku, tapi aku sudah mendapatkan himbauan dari teman-temanku, sehingga tidak sampai tertipu. Dari musibah yang menimpa Nabila dan Devi, ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik

1. Jangan Mudah Percaya dengan Orang Lain

Dari peristiwa ini, aku sadar bahwa kalimat “kepercayaan mahal harganya” benar adanya. Nabila kehilangan uang Rp 2.000.000,00 dalam hitungan menit, begitu juga Devi yang merugi Rp 150.000,00 setelah mengirimkan pulsa pada penipu.

Dalam keadaan apa pun, jangan mudah percaya dengan orang lain. Ada baiknya kamu memastikan setiap informasi yang kamu dapatkan. Sama seperti kita memastikan kebenaran sebuah berita, dalam kasus ini kamu juga perlu memastikan apakah benar orang yang menghubungimu adalah sosok yang kamu kenal.

Baca juga : Pengalaman 4 Cara Melunasi Hutang, Coba Caraku yang Ini!

2. Pastikan Informasi dan Jangan Gegabah

Selain jangan mudah percaya, tetaplah fokus dimanapun dan kapanpun. Sebelum memastikan bahwa orang yang menghubungimu adalah orang yang benar-benar kamu kenal, jangan pernah memberikan apa pun.

Menjaga fokus juga akan menghindarkanmu dari kejadian kurang mengenakkan seperti penipuan. Berpikirlah realistis, bahwa meminta sesuatu darimu tidak semudah mengirimkan pesan untukmu. Apalagi ketika orang yang tidak kamu kenal tiba-tiba memintamu mengirimkan sejumlah uang yang tidak wajar, sudah semestinya kamu waspada bahwa bisa jadi ia adalah penipu.

Baca juga : Pengalaman Seleksi Masuk STIS, Berhasil Lolos?

3. Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Kamu tidak harus mengalami penipuan dulu agar bisa waspada terhadap penipu. Dari peristiwa yang dialami orang lain, sudah semestinya meningkatkan kewaspadaanmu. Bagi kamu yang pernah menjadi korban penipuan, jangan sungkan untuk berbagi pengalaman agar tidak ada lagi korban di sekitarmu.

4. Selalu Berdoa dan Minta Perlindungan Tuhan

Agar terhindar dari hal-hal tidak menyenangkan, termasuk penipuan, jangan lupa untuk selalu berdoa. Mintalah perlindungan pada Tuhan agar selalu terhindar dari kejahatan dan juga pengaruh negatif.

5. Belajar Ikhlas dan Memperbanyak Amal

Apa yang bisa kita lakukan ketika menjadi korban penipuan? Selain melapor pada yang berwajib, sudah semestinya kita mengikhlaskan harta yang berkurang karena penipuan. Percayalah bahwa harta adalah titipan, dan jika itu menjadi rezeki kita, maka akan kembali.

Dari peristiwa ini, mungkin saja Tuhan sedang mengingatkan kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bisa juga ini menjadi pengingat bagi kita agar lebih memperbanyak amal soleh dan juga sedekah bagi yang membutuhkan. Berpikir positif adalah obat bagi hati yang kecewa karena kehilangan.

Demikian cerita pengalamanku dan juga teman-temanku yang menjadi korban penipuan modus baru di lingkungan mahasiswa. Sampai saat ini, kasus penipuan yang menimpa temanku belum juga terungkap. Semoga bisa meningkatkan kewaspadaan kita bersama.

Ingatlah bahwa tindak pidana penipuan bisa terjadi bukan hanya karena kelihaian pelaku, tapi juga kelalaian korban. Tetaplah waspada, dan jangan lupa untuk selalu berdoa agar terhindar dari kejadian tidak menyenangkan, seperti penipuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *