Guru Honorer, Pekerjaan Berat Yang Bikin Jatuh Cinta, Ini Ceritaku!

Jargon abadi untuk pekerjaan guru, pahlawan tanpa tanda jasa, adalah benar adanya. Apalagi guru honorer, tantangan yang dihadapi jauh lebih besar daripada guru yang sudah menjabat ASN.  Mulai dari beban pekerjaan hingga gaji. Perlakuan yang berbeda, hingga perjuangan untuk kesetaraan yang mirip sinetron di TV; ribuan episode dan konfliknya nggak kelar-kelar.

Tapi anehnya, pekerjaan ini gampang sekali loh, bikin jatuh cinta. Aneh, kan?

Deskripsi Singkat Jabatan Guru Honorer

Yang disebut guru honorer adalah guru yang tidak atau belum menjadi ASN. Di sekolah, guru honorer dianggap guru tidak tetap. Biasanya digaji per jam mata pelajaran, tapi ada juga yang mendapat gaji bulanan tetap. Namun keduanya memiliki kesamaan; sama-sama di bawah standar UMP (upah minimum provinsi) hehehe.

source: ecochannelfeunj.com

Guru honorer ini terbagi lagi ke dalam dua golongan besar: guru honorer pemerintah dan guru honorer komite sekolah. Guru honorer pemerintah, gajinya dibayarkan dari APBD daerah. Bisa dari APBD provinsi atau kabupaten/kota. Untuk hal ini tergantung pada daerah masing-masing, tapi kalau di Pekanbaru (Riau)—tempat saya tinggal—guru honorer yang mengajar di SMP-SMA atau sederajat adalah tanggungan APBD provinsi, dan guru SD atau sederajat adalah tanggungan APBD kota.

Ada lagi guru honorer komite sekolah. Nah, kalau yang ini gajinya diambil dari dana komite atau SPP atau dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) tempatnya mengajar. biasanya merupakan guru mata pelajaran tambahan, seperti guru Mulok (Muatan Lokal).

Sisi Manis Dan Pahit Menjadi Guru Honorer

Menjadi guru honorer itu bisa dikatakan tanggung jawab dan tugasnya sama besar dengan guru ASN. Apalagi yang menjadi guru kelas. Walau begitu, pendapatannya berbeda. Namun ada juga kok, sisi manis menjadi guru honorer. Hal yang paling bikin meleleh itu, saat murid menunjukkan perkembangan positif dari hari ke hari.  Bukan cuma dari prestasi akademik tapi juga dari sisi moralnya. Tahu sendiri kan, anak sekolahan zaman sekarang gimana perilakunya. Tidak semua, sih, tapi ada lebih banyak tantangan moral yang harus mereka hadapi dibandingkan generasi pendahulunya.

Hal manis lain, adalah waktu kita masih diingat oleh murid yang sudah lulus dari tempat kita mengajar. Pernah beberapa kali, waktu saya dan keluarga sedang jalan-jalan di CFD, ada remaja yang menyapa atau tiba-tiba menraktir kami jajanan. Kami yang bengong sambil mikir, “Ini siapa ya?” jadi kaget begitu tahu bahwa dia mantan murid beberapa tahun yang lalu.

guru honorer

Pernah juga ada mantan murid yang datang ke sekolah di Hari Guru Nasional, membawa bingkisan untuk anak saya yang baru lahir beberapa bulan sebelumnya. Repot-repot dia datang sebelum jam pelajaran mulai, lalu langsung berpamitan.

“Saya nggak lanjut SMP, nggak ada uangnya. Sekarang kerja di pemotongan ayam,” jawabnya waktu saya tanya akan kemana. Nah, gimana saya nggak baper coba?

Lalu bagaimana dengan sisi pahitnya? Oh, tentu saja banyak hal pahit di dalam profesi ini, Alonso. Pertama, soal gaji. Bukan hanya karena di bawah standar UMP, tapi juga karena seringnya telat. Kalau kalian menonton TV dan ada berita guru honorer yang belum digaji sekian bulan, itu benar. Para guru honorer memang harus bersabar soal gaji. Terutama mereka yang honorer komite, yang dibayar ketika dana BOS sudah cair.

Khusus untuk bulan-bulan di awal tahun, adalah saat-saat tanpa digaji sama sekali. dengan alasan APBD yang belum disahkan, gaji Januar hingga Maret seringkali diakumulasikan dan dibayar di bulan April. Pada tahun 2016 malah kami tidak digaji hingga bulan Juni. Dalam kondisi begini, penghasilan sampingan sangat berguna. Maka tidak heran kalau banyak guru honorer yang juga nyambi bekerja di tempat lain atau berprofesi ganda. Ada yang berjualan, mengajar les, menulis artikel, bahkan memulung. Apa saja asal halal.

Hal pahit lainnya adalah status. Kalau kamu sudah misuh-misuh karena status yang digantung oleh gebetan, maka bayangkan misuh-misuhnya guru honorer karena status yang digantung oleh pemerintah. Sudah cerita lama bahwa guru honorer akan diangkat menjadi ASN. Memang ada yang lantas diangkat, namun jauh lebih banyak lagi yang dibiarkan begitu saja hingga masa pensiun. Padahal jasa dan pekerjaannya sama dengan ASN.

 

Murid-Murid Dan Tingkah Polahnya 

Lantas, jika se-nggak enak itu menjadi guru honorer, kenapa Anda bertahan? Pasti itu pertanyaan di dalam kepalamu hehehe. Pertama, tentu saja karena mengajar adalah passion. Bagi guru honorer yang ditempatkan di sekolah negeri terutama, ketika mengajar merupakan passion utama, akan selalu ada rasa ingin kembali ke sekolah. Menghadapi murid-murid dengan semua tingkah polahnya.

Sekolah negeri, terutama yang berada di daerah seperti di Riau ini, memiliki banyak kendala dan hambatan. Mulai dari sarana dan prasarana, tenaga pengajar yang tidak kompeten, dll. Saat melihat murid bisa berhasil mencapai kompetensi di antara berbagai kendala itu, ada kepuasan tersendiri. Terutama untuk saya yang mengajar di kelas 3, kelas dimana murid mengalami masa transisi dari kelas bawah yang pelajarannya cenderung mudah menuju pelajaran yang lebih rumit dan serius.

Kedua, murid-murid yang punya tingkah seperti semangkok sayur asem; macam-macam, campur-campur jadi satu. Tahun lalu ada seorang murid yang sangat membekas di hati. Perempuan, dengan IQ di bawah rata-rata, dan berasal dari keluarga yang bisa dikatakan berantakan. Hampir semua guru di sekolah yakin anak ini sudah ‘tamat’, dalam artian tidak ada harapan lagi sama sekali. Kerjanya hanya diam, duduk melamun, karena nyaris tidak ada satupun pelajaran yang bisa ditangkapnya. Membaca saja dia tidak bisa.

Saya sudah menyerah menghadapi dia. Tinggal menunggu dia bosan dan menolak pergi ke sekolah saja deh, lalu pelan-pelan menghilang. Namun hal itu tidak terjadi. Si anak tetap datang, duduk, diam, bengong di kelas hingga jam pulang. Saya mencoba mengajaknya bicara, membawakan buku cerita milik anak saya saat balita dan mengajaknya pelan-pelan belajar membaca. Tapi dia nyaris tidak ada reaksi kecuali menggeleng dan berujar, “Eh, susah.” Lalu gimana caranya dia bisa naik sampai ke kelas tiga, coba? Frustasi saya waktu itu.

Sampai suatu siang, setelah class meeting saya punya ide. Anak ini, biarpun mengalami retardasi mental, disleksia dan diskalkulia, tapi dia bersih sekali. Dia sering spontan mengambil sampah yang terlihat bercecer di lantai kelas dan memasukkannya ke dalam tong sampah. Jadi hari itu saya buat program bersih-bersih dengan dia sebagai manajernya. Dengan keterbatasannya ternyata dia bisa loh, mengorganisir teman-temannya untuk bebersih kelas. Dia juga memberi ide bagaimana kelas mereka jadi lebih bersih.

Saat bagi rapor keesokan harinya, setelah menerima rapornya sambil cengar-cengir, dengan malu-malu dia berujar, “Saya mau jadi tukang sapu, nanti.” Maksudnya kalau dia sudah besar.

Oke, itu cita-cita yang rendahan ya, bagi anak lainnya. Tapi bagi anak ini, yang bahkan membaca saja sulitnya minta ampun, saya salut. Dia sudah mendapatkan passion dan tujuan hidupnya saat besar nanti.

Itu baru satu anak. Saya pernah mendapat anak yang bandelnya minta ampun, ternyata berbakat di bela diri dan berhasil mewakili Pekanbaru di OSN. Ada juga yang hobinya malakin temannya, ternyata hanya butuh didengarkan saja ceritanya karena orang tuanya kurang perhatian. Ada yang pintar sekali, ternyata diam-diam depresi karena statusnya sebagai anak wanita malam. Ya ampun, berwarna sekali kelas kami, dan warna-warni itu yang memikat saya di dalam pekerjaan ini.

Menghadapi Masalah-Masalah Dalam Pekerjaan

Kalau menjadi guru adalah pilihan hidupmu, maka tetapkan bahwa ini adalah profesi pengabdian. Daan, kebanyakan masalah yang terjadi dalam pekerjaan ini harus diselesaikan dengan sisi spiritual yang tinggi. Bagaimana rezeki bisa ada saja sampai di keluarga kami waktu saya tidak digaji hingga enam bulan, misalnya. Benar-benar pertolongan Allah SWT.

Bagaimana anak-anak yang bahkan sudah bisa dibilang tidak punya harapan ternyata bisa mendapatkan nilai sesuai KKM, atau si biang kerok yang hobinya menabok teman dan menjaili guru akhirnya menjadi anak paling baik di kelas. Atau si ‘murai batu’ yang hobinya ribuut melulu ternyata punya bakat literasi dan cerpen buatannya bagus sekali. Semua masalah itu baik gaji, kebijakan, maupun masalah di kelas akan membuat kepala saya pecah kalau hanya saya selesaikan berdasarkan kemampuan saya saja. Ada banyak doa dan mohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa untuk menyelesaikannya.

Bagaimanapun, jadi guru honorer itu berat, tapi kamu mungkin sanggup. Mau bergabung bersama squad kami? Ditunggu, ya hehehe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *