Bekerja Sebagai Guru Honorer, Butuh Keikhlasan, Gaji Tak Seberapa!

By | Maret 20, 2020

Saya lulus dari jurusan psikologi dari universitas negeri. Hampir setengah tahun setelah kelulusan, saya melamar di berbagai instansi industri melalui jobfair yang sering diadakan di kota-kota besar. Saya tertarik menjadi bagian personalia atau HRD. Saya melakukan berbagai macam psikotes dan wawancara di berbagai kota, namun hasilnya nihil.

Ikut tes di kota tentu menghabiskan ongkos transport, makan dan biaya kos, sedangkan saya belum punya penghasilan. Jadi terasa juga beratnya. Akhirnya orangtua meminta saya untuk pulang kampung sambil tetap melamar pekerjaan via online.

Saat itu melamar via online sangat terbatas. Saya membuat akun di beberapa platform jobseeker untuk melamar pekerjaan, seperti jobstreet, jobsDB, dan lain-lain, namun hasilnya nihil. Jadi kalau ada jobfair di kota besar, saya pergi ke sana. So pasti, keluar biaya lagi. Dan masih nihil.

Suatu ketika, ibu saya bilang bahwa ada tawaran dari Uwa saya untuk jadi guru BK di SMP negeri dekat rumah. Saya pun dulu sekolah di situ selama satu tahun. Saya pindahan dari daerah lain karena ikut bapak saya kerja di luar Jawa.

Saya ragu, sebab menjadi guru bukan cita-cita saya. Saya tidak suka mengajar. Saya tidak suka berinteraksi dengan anak-anak dan remaja. Sehingga saat itu saya belum memberikan jawaban.

Beberapa hari berikutnya, Uwa yang menawarkan pekerjaan datang, sekalian bertanya apakah saya mau mengisi lowongan guru BK. Saya mengungkapkan segala keraguan saya dan dijawab semua oleh Uwa. “Daripada di rumah, nanti ilmunya mandeg,” kata Uwa. Oke, akhirnya saya menerima tawaran itu. Langsung Uwa bilang besok sudah siap jam 7 untuk menemui kepala sekolah. Saya kaget karena belum persiapan apa-apa. Kata Uwa, tenang saja, paling wawancara sebentar saja.

Kesan Pertama Bekerja sebagai Guru Honorer

Besok pagi saya berangkat bersama Uwa. Uwa bekerja di Dinas Pendidikan Kabupaten, tetapi sebelumnya mengantarkan saya ke kepala sekolah. Setelah bertemu sebentar, Uwa pamit dan meninggalkan saya berdua dengan kepala sekolah. Saya begitu nervous, khawatir ditanya mengenai pengalaman kerja dan skill. Ternyata kepala sekolah hanya bertanya tentang keluarga saya. Beliau kenal dengan orangtua dan saudara-saudara saya yang pernah bersekolah di SMP itu. Jadi kayak ngobrol biasa.

Saya diantarkan ke ruang guru dan diperkenalkan di sana. Karena masih muda, saya “digodain” dengan guru-guru yang ada di ruangan. Saya malu dan agak merasa tidak nyaman. Sebenarnya candaannya biasa saja, budayanya memang seperti itu di kampung saya, cuma saya memang tidak terbiasa.

Hari pertama, saya “tidak ada kerjaan”. Tidak ada yang menjelaskan jobdesc saya apa dan orang kantor mengira saya sudah tahu apa yang harus dilakukan sebagai guru BK. Saya merasa orang-orang agak menjauh setelah kejadian perkenalan tadi. Mungkin karena saya “tidak menanggapi” terkesan sombong. Belakangan saya baru tahu bahwa Uwa saya merupakan orang yang cukup terpandang di lingkungan kerja saya. Beliau merupakan ketua komite sekolah SMP itu. Alhamdulillah saya merasakan diperlakukan dengan baik selama bekerja di sana, karena Uwa saya.

Sebenarnya menurut saya, dimana-mana seperti itu. Sudah berlaku umum, ada kesenjangan sosial antara pegawai PNS dan pegawai honorer atau antara pegawai senior dan pegawai junior.  Tetapi setahu saya, tidak pernah ada kasus antara pegawai PNS dan pegawai honorer. Paling hanya desas desus atau omong-omongan di belakang aja.

Satu bulan pertama, saya lebih banyak belajar kepada guru yang menjabat guru BK sebelum saya. Dia guru honorer dan juga guru mata pelajaran, namun merangkap guru BK. Ada yang bilang beliau tidak suka dengan kehadiran saya karena dengan begitu penghasilannya sebagai guru BK hilang. Orangnya agak ketus. Kalau saya bertanya tentang BK, ujung-ujungnya “Yah, sampean pasti lebih ngerti tentang BK daripada saya.” Saya sampai tidak enak. Ternyata memang orangnya seperti itu, dan beliau aslinya baik. Jujur, pekerja keras, tapi jarang berbasa basi dengan orang lain.

Ya beginilah dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Banyak gosip (malah agak cenderung ke fitnah sih) antar rekan kerja.

Saya juga diberi ruang BK di area pojok sekolahan, dekat kantin. Hampir mirip kayak gudang. Ruangan sangat luas, mungkin seluas ruang kelas. Di situ terdapat beberapa rak buku, satu set sofa yang agak rusak, meja dan kursi kerja, dan ada ruangan kecil. Mungkin ruang ini dulunya ruang laboratorium, dan ruang kecil itu tadinya untuk menyimpan barang-barang lab. Ruangan kecil itu pengap dan bagian atasnya sudah jebol dan bocor, jadi lembab. Saya bersihkan semampunya ruangan tersebut.

Sehari-hari saya sendirian di ruangan tersebut. Biasanya sambil baca buku yang saya bawa sendiri atau pinjam di perpustakaan. Kalau ada guru atau pegawai yang lewat, sering ditegur supaya jangan sendirian di situ atau melamun. Belakangan saya baru mengetahui bahwa katanya ada siluman ular di situ. Mereka khawatir saya kenapa-napa. Padahal ruangan BK dikelilingi ruangan kelas dan lab, jadi tidak terlalu sepi. Akhirnya saya kadang keliling kelas atau ke perpustakaan, membantu pegawainya memasang name tag di bukunya.

Suatu hari saya dipindahkan ke ruangan kecil dekat kepala sekolah. Saya kaget, kenapa bisa seperti itu. Kelakar orang kantor supaya kepala sekolah bisa mengawasi kerjanya saya. Ternyata Uwa saya yang minta kantor saya dipindahkan karena kasihan dengan saya dapat ruangan di area pojok belakang sekolah. Setelah tahu kenyataannya saya sampai tidak enak hati dengan rekan-rekan yang lain. Mentang-mentang keponakan orang dinas, baru kerja sudah dapat perlakuan khusus. Saya pribadi tidak apa-apa ditempatkan di ruangan yang pertama daripada jadi omongan seperti ini. Tapi kepala sekolah sudah memutuskan.

Berbagai Kasus Siswa yang Ditangani Guru BK

Kasus pertama yang saya dapatkan adalah anak yang sering bolos sekolah. Ternyata anak tersebut adalah tetangga saya sendiri. Jujur, saya kurang akrab dengan lingkungan sekitar rumah. Saya tipikal anak rumahan. Orangtuanya sudah menyerah. Wali kelasnya pun menyerah akhirnya memberikan kasus ini ke saya.

Saya meng-interview anak tersebut. Menurut pengamatan saya memang anaknya sudah acuh tak acuh terhadap sekolah ini. Pakaian tidak memenuhi aturan, tugas tidak dikerjakan, dan sering tidak masuk sekolah.

Saya tidak punya pengalaman menangani kasus seperti ini sebelumnya. Si anak sepertinya sengaja melakukan semua yang melanggar peraturan agar dikeluarkan dari sekolah. Dia ingin pindah ke sekolah lain, dimana teman-temannya banyak yang bersekolah di sana, sedangkan orangtuanya ingin ia tetap bersekolah di SMP negeri. Akhirnya dengan pertimbangan semua pihak, anak ini dipindahkan ke sekolah lain.

Kasus kedua, saya menangani sekumpulan anak-anak yang merokok. Biasanya guru BK dan Komisi Disiplin Siswa memberikan hukuman terhadap anak-anak ini. Oleh saya, saya beri nasihat dan memanggil para orangtua anak-anak tersebut, agar anak-anaknya juga diawasi pergaulannya di luar sekolah. Sejak kasus ini, para guru sepertinya kecewa karena saya tidak memberikan hukuman kepada anak-anak yang melanggar peraturan. Saya dinilai lemah dan kurang tegas sehingga akan berpengaruh pada kelakuan murid-murid kepada gurunya.

Kasus berikutnya, ada dua anak yang ketahuan mabok di kelas. Orangtua langsung dipanggil saat itu dan yang menjadi provokator langsung dikeluarkan dari sekolah, sementara yang satunya tetap dipertahankan. Sejak saat itu saya sadar bahwa posisi saya memang lemah. Guru-guru langsung memberikan hukuman tanpa berkoordinasi kepada saya.

Keputusasaan yang Berakhir pada Sebuah Pencerahan

Ini merupakan titik terendah dalam hidup saya. Saya merasa tidak dianggap dan tidak berguna, hanya sebagai pajangan yang menunjukkan bahwa sekolah ini punya guru BK dan memenuhi standar sebuah sekolah negeri.

Saya menjadi acuh tak acuh terhadap pekerjaan ini. Datang terlambat dan pulang paling cepat. Padahal jam kerja saya cuma dari jam 07.00-jam 14.00. Saya cuma ngobrol dengan rekan honorer, dan malas sekali kalau ada kasus. Saya tanda tangan kalau ada administrasi yang butuh tanda tangan guru BK. Cuma itu. Pendapat saya tidak ada yang mau mendengarkan. Kadang saya cuma duduk sendirian di ruangan.

Sampai akhirnya ada murid yang datang. Dia cuma menegor saya. Tipe anak yang berani berinteraksi dengan orang dewasa. Saya meladeni karena memang saya tidak ada kerjaan. Dia dan teman-temannya mengobrol sesuka hati di ruangan saya, ya kadang saya tanggapi. Ternyata mereka suka dan cocok dengan pendapat saya. Besoknya mereka datang ke ruangan saya untuk ngobrol dan menjadi keterusan.

guru honorerTersebarlah bahwa saya “menerima curhat” para murid. Mereka bisa datang kapan saja, pas jam istirahat atau jam pelajaran kosong. Murid-murid pada berdatangan. Ada yang cerita tentang pacaran, minta pendapat tentang studi di SMA atau sekedar duduk saja. Saya jadi tahu gosip yang ada di sekolah dari perspektif murid dan kenal beberapa nama karena mendengar gosip dari mereka.

Dengan bicara seperti layaknya teman, siswa lebih mempertimbangkan pendapat saya. Dan yang terpenting, mereka percaya dengan saya. Harapan saya, jika ada masalah di sekolah, mereka datang dan meminta pendapat saya daripada meminta pendapat orang yang kurang tepat.

Proses ini mengalir begitu saja. Saya menikmati berbincang santai dengan siswa. Tidak ada tendensi saya ingin menjadi guru BK yang baiklah, teladanlah, atau semacamnya. Makanya saya kaget ketika dianugerahi sebagai “Guru Terbaik dalam Membimbing Siswa” pada acara Hari Guru.

Tiap semester saya buat rekapitulasi absensi siswa. Buat pegangan saya saja. Tiap akhir semester, saya bagikan ke para wali kelas. Alhamdulillah ternyata itu membantu para wali kelas untuk mengisi raport siswa. Padahal tujuan awalnya cuma untuk mengetahui kehadiran siswa, kalau sudah 3 kali alfa, dipanggil dan ditanya alasan mengapa bolos sekolah. Sampai kalau sudah saya interview anaknya, dan ternyata dia masih bolos, saya undang orangtuanya untuk datang ke sekolah. Kalau sudah sampai tahap ini, belum ada perubahan dari perilaku bolos anaknya, saya akan datang ke rumah (home visit). Kegiatan home visit ini sudah disetujui oleh kepala sekolah. Guru BK atau wali kelas boleh melakukan home visit.

guru honorer

Alhamdulillah, ada perubahan yang signifikan terhadap siswa sejak ada berbagai intervensi BK ini. Dengan melakukan pendekatan dengan orangtua, saya juga jadi memahami kondisi latar belakang anak berbeda-beda. Ada yang anak broken home, ikut kakek nenek karena orangtua kerja jauh, dan lain-lain. Saya jadi mengambil banyak pelajaran kehidupan dengan menjadi guru BK.

Sangat memudahkan jika kita berhadapan dengan orangtua/wali murid yang kooperatif. Yang mengesalkan adalah jika sudah berhadapan dengan orangtua/wali murid yang selalu merasa anaknya benar atau selalu menyalahkan tindakan/intervensi dari sekolah, ditambah jika orangtua/wali murid tersebut punya jabatan/kekuasaan tertentu, misal ada siswa yang secara emosi masih seperti anak-anak. Jika sedang kesal, dia tidak segan mengambil barang keras (misalnya batu) untuk melempar teman yang mengganggunya. Kalau marah seperti balita sedang tantrum. Kemampuan komunikasinya juga belum begitu bagus. Menurut saya ini berbahaya dan kemampuan emosinya belum matang untuk anak usia SMP kelas 1. Tapi karena orangtuanya punya jabatan jadi anak itu tetap bersekolah di situ, tanpa ada intervensi khusus kepada siswa tersebut.

Gaji Bekerja Sebagai Guru Honorer

Sudah jadi rahasia umum, gaji honorer sangat kecil dan saya pun mengalaminya. Bulan pertama gaji saya kisaran Rp 150.000-an (saya lupa tepatnya). Itu pun kepala sekolah langsung yang memberikan, sambil minta maaf cuma bisa memberi gaji segini. Saya samasekali tidak masalah, toh memang saya juga tidak melakukan “apa-apa”.

Kemudian tiap tahun saya (tidak tahu dengan pegawai honorer lain) mengalami kenaikan gaji Rp 50.000-Rp 100.000. Saya menjadi guru honorer selama dua tahun dan gaji pokok saya mentok Rp 350.000. Kalau guru honorer yang mengajar mata pelajaran, gajinya dihitung per jam, sehingga lebih banyak daripada guru BK. Kalau pegawai honorer (misal pegawai TU) gajinya lebih kecil daripada guru.

Terkadang kami juga sering dapat amplop, misal PNS yang dapat uang sertifikasi, disisihkan Rp 50.000-Rp 100.000 untuk dibagikan ke pegawai honorer. Kadang juga ada “amplop yang kurang jelas” yang saya juga tidak tahu itu uang apa. Kalau dapat amplop seperti itu, biasanya saya pakai untuk keperluan ruang BK, misal beli pengharum ruangan BK, tisu (kadang ada siswa yang curhat sampai nangis di ruang BK), air minum kemasan untuk orangtua yang datang memenuhi panggilan guru BK, dll.

Saya resign menjadi guru BK karena secara jenjang karir saya akan mentok menjadi guru honorer, kecuali saya kuliah lagi jurusan BK. Alasan kedua, saya menikah dan pindah ikut suami sehingga jarak rumah dan tempat kerja menjadi lebih jauh. Jadi uang gaji habis hanya untuk transport saja. Alasan terakhir, kehamilan saya yang pertama agak sedikit lemah sehingga saya memilih mengurangi kegiatan di luar rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *