Pengalaman Kerja Jadi Sales Peralatan Kesehatan, Ini Rasanya!

By | Maret 1, 2020

Pengalaman bekerja sebagai sales penjual alat kesehatan di peroleh, dengan membaca pengumuman yang di tulis pada dinding salah satu counter di mall kota saya tinggal. Kala itu saya merasa jenuh karena harus menunggu sekitar satu bulan, dari mulai ujian nasional hingga pengumuman kelulusan, dan segala persiapan SKHUN serta Ijazah.

Mencari Kerja Tanpa Membawa CV

pengalaman kerja

Mencari Kerja Pertama

Terbiasa aktif setiap harinya, seperti pergi ke sekolah, bermain dengan teman-teman sepulang sekolah, atau pergi ke bimbingan belajar. Membuat saya jenuh harus menunggu dan menjadi pengangguran di rumah.

Akhirnya saya putuskan untuk mencari pekerjaan. Maklum pola pikir kala itu lulus maka harus menghasilkan uang. Saya yang sudah tidak sabar memiliki penghasilan sendiri, pergi ke salah satu mall terbesar di kota metropolitan ke dua. Cerobohnya tidak membawa cv atau surat lamaran satupun.

Persiapan yang dilakukan adalah berpakaian serapi dan sesopan mungkin. Bahkan meminjam sepatu highheels milik ibu. Dengan percaya diri melangkah keluar rumah setelah mendapatkan restu dari orang tua tercinta. Merasa sudah dewasa dan memiliki tanggung jawab pada diri sendiri.

Sesampainya di mall tersebut ternyata banyak sekali lowongan yang tersedia. Hanya saja mereka menyuruh saya menunggu hingga ijazah SMA keluar. Tidak sedikit juga yang bertanya dimana surat lamaran saya. Sudah kepalang tanggung, pencarian terus di lanjutkan.

Tepat di depan salah satu supermarket, ada sebuah counter sederhana yang menulis pengumuman. “Di cari karyawan/ti untuk posisi sales, datang langsung tanpa lamaran” Saya yang kurang pengalaman ini senang bukan kepalang. Dalam hati berkata, ini pekerjaan untuk saya!.

Awal Mula Melamar Sebagai Sales

pengalaman kerja

Pengalaman Kerja Sales

Di dalam counter tersebut saya di sambut seorang pria, yang saat itu diperkirakan berusia sekitar 25 tahunan. Pria tersebut terlihat tampan di mata anak puber labil seperti saya. Ternyata beliau merupakan supervisor dari toko tersebut.

Sebenarnya untuk di sebut toko, kurang tepat, lebih mirip stand jualan bazaar. Tapi mari abaikan banyaknya pertanyaan yang kerap bermunculan setiap saya memikirkan pengalaman ini. Saya mengutarakan maksud dan tujuan bertemu beliau adalah untuk bekerja.

Bapak supervisor yang masih muda nan tampan, menerima dengan ramah dan antusias tujuan saya. Mulailah di jelaskan apa tugas seorang sales di toko mereka. Di antaranya menjual alat-alat kesehatan yang produknya ada di lokasi. Nanti akan ada sales senior yang membimbing karyawan baru seperti saya ini.

Tidak lama datang seorang wanita dan seorang pria lain ke dalam counter tersebut. Mereka lah para sales senior yang nantinya akan membimbing saya. Keduanya berpakaian rapi dengan kemeja dan bawahan kain, yang wanita lengkap dengan make up dan penampilan cetarnya.

Semua visualisasi yang ditampilkan membawa imajinasi saya akan kehidupan kerja. Berpenampilan cantik, rapi dan menarik. Melupakan fakta bahwa seorang anak SMA, tidak punya rok span kecuali seragam sekolah. Sepertinya ibu saya masih menyimpan baju-baju kerjanya terdahulu. Singkat cerita obrolan dan penjelasan akan situasi toko, ternyata menjadi sesi wawancara. Supervisor menjabat tangan saya erat dan berkata bahwa saya di terima kerja mulai besok.

Semangat Bekerja Tidak Mendasar

Pagi ini saya bangun dengan semangat bekerja yang membuncah di dalam hati. Ingin cepat-cepat membuat pengumuman pada keluarga di rumah, bahwa sudah di terima bekerja. Begitu terbangun yang saya cari adalah ibu dan ayah, kebetulan mereka sedang di ruang makan menikmati sarapan.

Mulailah anak yang baru menginjak usia 18 tahun pada empat bulan silam ini, berceloteh tentang kesempatan bekerja yang didapatkannya kemarin. Mungkin karena kasihan atau orang tua ingin saya memperoleh pengalaman, mereka hanya diam mendengar penuturan anaknya.

Jam kerja dimulai pada pkl 10:00 sampai pkl 22:00 mengikuti waktu buka dan tutup mall. Padahal normalnya, pekerjaan akan di lakukan pembagian waktu. Fakta ini tidak saya sadari pada saat itu, total saya saya harus bekerja 12 jam dam satu minggu. Karena sebagai pegawai training belum dapat jatah libur selama 21 hari.

Ibu membuatkan bekal makan siang dan memberi ongkos transport. Beliau berpesan jika ada sesuatu saya harus segera cerita pada mereka. Tanpa menganggap terlalu serius perkataan ibu, saya berangkat bekerja. Rutinitas ini terus saya lakukan dengan rajin hingga hari ke tiga.

Etos Kerja Tanpa Pengetahuan Adalah Kosong

pengalaman kerja

Pengalaman Kerja Lulusan Muda

Supervisor mengajarkan saya untuk berani membagi brosur dan harus bisa menarik orang datang ke counter kami. Dengan rajin saya membagikan brosur dan mengimplementasikan pengetahuan tentang produk-produk yang counter jual secara singkat.

Setiap kali berhasil menarik calon pembeli ada perasaan berhasil. Rasanya bangga bisa memberikan kontribusi untuk toko. Apa lagi kalau si supervisor tampan itu mengatakan kerja bagus atau memberi pujian. Seketika lelah bekerja 12 jam hilang. Anak seusia saya saat itu tergolong ber etos kerja tinggi, sayangnya tidak dengan pengetahuan yang cukup.

Di salah satu sudut terjauh mall, terdapat ruangan bersekat yang bisa saya pakai tempat bersembunyi untuk istirahat dan makan siang. Sudah dua hari aktivitas tersebut saya lakukan dan tidak ada satpam yang mengusir.

Sampai suatu ketika, saat istirahat makan siang di tempat favorit tersebut kedatangan orang lain. Mungkin karena letaknya yang ada di pojok dan sepi, jadilah menarik orang lain juga untuk datang. Saya makan berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi.

Tidak sengaja pembicaraan orang tersebut terdengar. Ternyata yang datang adalah sales senior tempat saya bekerja dan sales parfum counter di depan kami persis. Mereka saling membicarakan penghasilan satu sama lain. Termasuk rencana kepindahan toko tempat saya bekerja dalam 21 hari ini.

Melarikan Diri Dari Tempat Kerja

Dari pembicaraan tersebut saya mengetahui bahwa toko akan tutup dalam waktu 21 hari. Persis dengan lama waktu training saya. Selain itu, saya juga mengetahui ternyata manajer toko memberikan jatah uang makan untuk semua pekerja termasuk pegawai training. Uang tersebut di terimakan kepada supervisor tampan. Berarti orang tampan itu mengambil jatah uang makan yang menjadi hak saya. Seketika patah hati dengan orang tersebut.

Setelah merasa di curangi, saya seketika membenci pekerjaan yang sedang di lakukan. Maklum, sikap anak seusia itu masih labil dan lebih ekspresif. Rasa bangga karena bekerja yang sirna barulah saya melihat bahwa skema kerja toko alat kesehatan tersebut hanya ingin menipu pembeli.

Mereka akan berpura-pura melakukan undian berhadiah pada pengunjung. Padahal jika dibuka semua undian akan mengatakan anda adalah pemenangnnya. Nominal hadiah yang di buat mulai dari nilai terendah yaitu 5 juta rupiah.

Setelahnya pengunjung akan di bujuk rayu membeli alat kesehatan dengan harga yang terbilang mahal. Mereka mengatakan untuk di coba, jika tidak berkahasiat boleh di kembalikan. Padahal faktanya, oknum-oknum ini akan terus berpindah mall agar menghindari keluhan dan pengembalian produk.

Singkatnya saya mencari cara untuk membawa tas saya dari counter tanpa perlu di ketahui oleh pegawai lain. Terutama si supervisor tampan yang tingkahnya tidak seindah wajahnya. Dengan hati berat saya sampaikanlah pengalaman tidak mengenakan dalam pencarian jati diri pada ibu. Ternyata mereka semua sudah tahu, makin merasa patah hati dan bodoh karena berhasil tertipu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *