Seni Merekrut Karyawan, Ketika Tak Sesuai Keinginan HRD

By | Maret 5, 2020

Hari baru sudah datang dan ini menunjukkan akan ada harapan baru untuk semua orang bukan?. Kali ini saya kembali bangun dan bersiap untuk berangkat bekerja. Maklum karena masih karyawan baru, semangat untuk berangkat bekerja masih berkobar.

And  here I am, being a HRD Manager and I am still 24 years old. Deadline kali ini adalah mencari nutrisionist atau populer dengan ahli gizi. Ahli gizi dibutuhkan dengan sertifikat (Surat Tanda Registrasi) dan mau bekerja sesuai dengan job desk yang ditawarkan.

Seni Merekrut Karyawan

Tahap dalam Perekrutan Karyawan

Recruitment dilakukan dengan durasi pengumpulan berkas yang lebih singkat yaitu selama 1 minggu. Email aplikasi yang masuk lumayan banyak dan dikirim via email ke email hrd. Sekitar 23 orang dinyatakan lulus seleksi administrasi. Selanjutnya dilakukan pemanggilan kandidat untuk seleksi test tertulis.

Pemanggilan Karyawan untuk Mengikuti Tes

Pemanggilan ini lumayan membuat kerongkongan saya kering, karena dalam waktu satu jam saya harus menelpon 23 orang untuk datang mengikuti test. Terkadang saat adanya job dikantor untuk menelpon orang saya berharap itu bukan di bulan ramadhan ataupun saat saya tidak puasa sunnah karena butuh usaha extra. Karena bayangkan saja, setiap calon kandidat yang kita telfon harus mendapatkan penjelasan mengenai tempat, waktu, dress code dan gambaran umum tes yang akan dilaksanakan.

Ketika menelpon calon karyawan untuk datang tes, tidak semua calon karyawan mengangkat telfon kita, ada telfon yang diangkat oleh suaminya karena sang istri ada dirumah dan HP terbawa oleh suaminya. Ada juga pada panggilan ketiga telfon yang masih tidak diangkat juga. Dari banyaknya waktu yang saya habiskan dalam menelpon selama bekerja sebagai HRD, terkadang kita sudah bisa menilai karakter orang dari cara mereka menjawab telpon.

Seni Merekrut Karyawan

Pernah satu kali, saya menelpon calon karyawan, ketika pertama kali diangkat, sapaan saya dijawab dengan ketus, selanjutnya ketika saya menjelaskan bahwa saya HRD dan memintanya hadir untuk tes di tempat kami, maka selanjutnya seperti yang kita duga jawaban dari pertanyaan saya selanjutnya kepada sang calon karyawan dijawab dengan suara selembut bidadari J, tapi sadarlah Saudara, cara Anda menjawab telepon ini sudah masuk dalam catatan saya dan sudah saya tandai dalam penilaian daftar calon karyawan yang akan mengikuti test. Jadi saran saya setiap menjawab telefon dari siapapun kita harus menjawab dengan baik, karena kita tidak pernah tahu siapa yang akan menelfon.

Kembali ke seleksi karyawan untuk formasi ahli gizi. Dari analisis aplikasi yang masuk kebanyakan dari kampus yang sama dan masih fresh graduate. Ketika diadakan tes tertulis semuanya hadir dan mengikuti tes sesuai instruksi yang diberikan.

Untuk tahap wawancara kami memangkas setengah dari peserta. Wawancara akhir dilakukan pada hari yang sama. Saya membagi urutan wawancara mereka sesuai dengan prioritas nilai yang bagus dan domisili. Sehingga yang didahulukan adalah calon karyawan yang memiliki hasil tes tertulis tinggi dan yang domisili jauh.

Domisili menjadi pertimbangan karena kami tidak ingin calon karyawan yang datang dari luar kota mengalami kesulitan dalam akomodasi nantinya untuk kembali ke tempat tinggal mereka.Tibalah saatnya untuk memutuskan kandidat yang akan terpilih sebagai ahli gizi. Saya kembali melakukan analisis dari beberapa kriteria antara lain berkas lamaran, hasil tes tertulis dan hasil tes wawancara.

Susahnya Mencari Ahli Gizi

Finally, beberapa shortlist kandidat telah didapatkan. Saya merasa untuk recrutment karyawan kali ini tidak akan memakan waktu yang lama karena kami punya stock kandidat yang banyak. Setelah hasil tes disetujui, Saya mulai menghubungi kandidat terpilih sebagai ahli gizi kami.

Kandidat nomor satu mengatakan bahwa setelah dia berdiskusi dnegan orang tuanya, dia tidak diperbolehkan merantau terlalu jauh J. Okey, Lets move into second candidate, Saya menelpon kandidat ini dan pada nada dering ketiga baru diangkat. Setelah saya menyampaikan hasil tes, dan mengatakan bahwa dia terpilih, kandidat ini langsung menyampaikan bahwa dia tidak bisa bergabung dengan kami karena alasan keluarga.

Dan begitu seterusnya sampai saya menelepon kandidat kedelapan. Menurut Saya, ini dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama pendaftar sebagai ahli gizi yang berjumlah 23 orang ini hampir semuanya fresh graduate dan meminta gaji lebih besar dari UMR regional kami.

Seni Merekrut Karyawan

Ini merupakan faktor penyebab, karena jumlah gaji yang diharapkan oleh mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka dapatkan kalau mereka bekerja nantinya dengan kami. Kedua, ketika saya tinjau lebih dalam, 10 kandidat teratas berasal dari kampus yang sama. Dan ini dapat memicu mereka berdiskusi dan saling mempengaruhi mengenai pekerjaan ahli gizi ditempat kami.

But, I am not judging, ini adalah pilihan masing-masing orang. Analisis saya yang ketiga adalah untuk kedepannya ketika menyeleksi tahap administrasi dan tertulis saya harus lebih jelimet dalam melihat calon karyawan agar dapat menemukan mana calon karyawan yang sesuai dnegan kriteria yang diinginkan.

Bahasan mengenai ahli gizi yang baru ini menjadi topik hangat dalam rapat kantor. Bahkan ditengah kegalauan kami mencari sisi humor dari semua hal ini. Saya mengatakan mungkin hanya disini HRD ditolak oleh calon karyawan berkali-kali dan bahkan ada calon karyawan yang tidak mau mengangkat telfon dari HRD J.

Akhirnya Terpilih Kandidat Sebagai Ahli Gizi

Suatu pagi akhirnya saya kembali me review berkas lamaran calon karyawan. Saya beserta tim manajemen akhirnya menjatuhkan pilihan kepada kandidat pada tes pertama (yang diikuti 3 orang ahli gizi) yang berasal masih dalam Kabupaten kami dan langsung menelponnya. Seperti yang diharapkan ahli gizi ini bekerja bersama kami, Dia sudah lama menunggu pekerjaan ini dan masih menganggur sampai saat ini.

Dia memiliki attitude yang bagus, bahkan sudah menjalani tahun ketiganya di tempat kami. Saya jadi teringat dengan quote dari penulis favorit saya, Tereliye “Terkadang hidup dengan pilihan kedua merupakan keputusan terbaik”. Dari pencarian ahli gizi ini saya kembali belajar bahwa kandidat terbaik terkadang datang bukan dari calon karyawan yang memiliki nilai yang baik, akan tetapi dari calon karyawan yang memiliki sikap dan kemauan untuk bkerja yang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *