Berapakah Gaji Banser? Cek Rinician Gaji dan Tugasnya Disini

Secara teori, mustahil (tidak mungkin) rasanya sebuah organisasi massa tidak membutuhkan tenaga militer (sipil). Buktinya saja, Muhammadiyah membutuhkan Kokam, NU membutuhkan Banser, dan lain sebagainya.

Ada satu hal yang ingin kami ulas disini, yaitu tentang Banser, yang keberadaannya selalu ada dalam setiap acara NU. Tanpa Banser, NU rasanya kurang kuat. Begitupun sebaliknya, tanpa NU, Banser akan kurang terarah dan khawatir lepas kendali.

Tapi, tahukah Anda kira-kira berapa sih gaji Banser itu?

Berapakah Gaji Banser Sebenarnya?

Sebagai tenaga militer di sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia, para Banser tidak memperdulikan tentang materi yang mereka dapat setelah menjaga keamanan acara NU. Yang penting suasana persatuan dan kesatuan bisa terjaga dengan baik.

Bahkan, dari zaman ke zaman, hal-hal yang berkaitan dengan materi tidak pernah menjadi prioritas Banser. Walau, banyak pertanyaan tentang berapa sih gaji Banser? Apakah sesuai dengan tupoksi pekerjaannya, yang secara kasat mata terlihat cukup berat dan memakan banyak waktu?

Menurut beberapa sumber, gaji Banser tidaklah gede, jika hanya diukur dari materi (nominal rupiah). Ada yang mengatakan bahwa amplop yang diterima Banser satu kali ngepam itu senilai Rp 20.000-an. Ada juga yang mengatakan seorang Banser tidak mendapat amplop sama sekali.

Hanya, biasanya dalam menjalankan tugasnya mereka selalu mendapat bonus, seperti satu batang rokok, satu gelas kopi, atau makanan.

Namun, jika gaji tersebut diukur dari sudut pandang lain, misalnya gaji banser diukur dengan ketulusan. Gajinya sangatlah besar dan ini bisa menjadi panutan.

Mereka tidak digaji, tetapi dengan rela hati, ikhlas, mau mengabdi kepada NU dan NKRI. Bahkan, untuk membeli seragam dan sepatu, mereka membeli dengan uangnya sendiri. Sebuah pekerjaan yang luar biasa kan? Benar-benar dari panggilan jiwa.

Keuntungan Menjadi Banser

Hal yang dicari oleh para Banser bukanlah keuntungan yang bersifat keduniawian atau iming-iming gemerlapnya dunia seperti gaji Banser. Mereka hanya ingin “Sami’na Wa Atho’na” (kami dengar dan kami taat) kepada para Ulama dan Kyainya.

Walau materi penting untuk menunjang hidup dan menafkahi keluarga, tetapi tanggung jawab menjaga kiai, ulama, agama, bangsa, dan negara dari gangguan orang yang tidak bertanggung jawab jauh lebih penting di atas segalanya.

Hal ini terbukti, dari sebagian besar Banser bukanlah seorang yang kaya harta. Tetapi, karena keikhlasannya dalam bekerja yang menjadi bekal di hari akhir nanti, segala tanggung jawab menjadi kepala keluarga justru tetap diembannya dengan baik. Itulah keuntungan sesungguhnya yang dicari para Banser.

Profil Banser

Jika menelisik tentang sejarah, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU adalah lembaga semi otonom dari Gerakan Pemuda Ansor yang berdiri pada 1930.

Namun menurut sumber lain, dalam Kongres Ke-2 pada 1937, di Malang, Jawa Timur, ANU (Ansor Nahdlatul Ulama) atau Gerakan Pemuda Ansor mulai mengembangkan sebuah organisasi kepanduan bernama Barisan Ansor Nahdlatul Ulama (BANU). Yang sekarang lebih terkenal dengan Banser, tenaga militer NU dengan seragam lorengnya mirip TNI.

Tujuannya didirikannya adalah untuk memberikan pengamanan atas semua kegiatan yang digelar Partai NU. Sekaligus berkaitan dengan menghangatnya dan semakin kerasnya persaingan politik pada masa itu, baik di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.

Sekarang, tenaga militer ini tidak hanya banyak berperan dalam hal pengaturan, pengamanan, dan penjagaan acara-acara yang digelar oleh NU serta organisasi-organisasi afiliasinya. Tetapi, juga untuk pengaturan, pengamanan, dan penjagaan acara-acara sosial dan keagamaan di luar NU.

Hadirnya Banser memang bisa diterima secara umum. Karena, memang diakui bahwa jumlah aparat  kepolisian masih sangat kurang dan terbatas jika dibanding dengan rasio jumlah penduduk Indonesia.

Untuk menjaga eksistensinya dalam membela dan menjadi benteng ulama, sekaligus menjaga komitmen nasionalismenya, belakangan ini Banser lebih memainkan perannya sebagai relawan bencana yang perannya mendekati peran SAR (Search and Rescue). Banser akan membantu siapapun, tanpa mengenal adanya perbedaan suku, agama, atau golongan.

Tujuh Satuan Khusus Banser

Dalam PO (Peraturan Organisasi) Pasal 23, Banser disebut sebagai organisasi yang bersifat keagamaan, kemanusiaan, sosial, kemasyarakatan, dan bela negara. Dalam melaksanakan semuanya, Banser memiliki tujuh satuan khusus.

  1. Densus 99 (Datasemen Khusus 99 Asmaul Husna)

Densus 99 adalah satuan yang memiliki tugas untuk mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan informasi ke pimpinan terkait pencegahan dan penangkalan terhadap berbagai upaya kekerasan keagamaan. Sehingga, warga negara Indonesia bisa nyaman dan aman saat menjalankan agama dan kepercayaannya.

 

  1. Bagana (Satuan Banser Tanggap Bencana)

Bagana adalah satuan yang memiliki tugas dalam hal pencegahan bencana, tanggap darurat, serta rehabilitasi.

 

  1. Balakar (Satuan Khusus Barisan Ansor Serbaguna Penanggulangan Kebakaran)

Balakar adalah satuan yang memiliki tugas dalam hal penanggulangan bahaya kebakaran.

 

  1. Balantas (Satuan Khusus Banser Lalu Lintas)

Balantas adalah satuan yang memiliki tugas dalam hal penanganan peristiwa transportasi dan lalu lintas jalan, sekaligus dalam hal pengurangan risiko kecelakaan. Sehingga tercipta ketertiban dan kelancaran berlalu lintas.

 

  1. Basada (Barisan Ansor Serbaguna Husada)

Basada adalah satuan yang memiliki tugas di bidang kesehatan, kedokteran, dan norma hidup sehat bagi masyarakat pada umumnya dan masyarakat khusus di lingkungan NU dan GP Ansor.

 

  1. Banser Protokoler (Barisan Ansor Serbaguna Protokoler)

Banser Protokoler adalah satuan yang memiliki tugas dalam hal manajemen acara organisasi, kenegaraan atau acara resmi lainnya di lingkup NU, Banser, dan GP Ansor.

 

  1. Baritim (Barisan Ansor Serbaguna Maritim)

Baritim adalah satuan yang memiliki tugas dalam hal pemeliharaan, pengamanan, pelestarian, dan konservasi wilayah maritim NKRI.

Itulah ulasan gaji Banser yang perlu Anda tahu. Gede atau tidak? Jawabannya adalah tidak. Bahkan tanpa gaji. Namun, segala pengabdiannya perlu menjadi contoh bahwasanya hidup di dunia jangan hanya mengandalkan materi, walau materi penting. Utamakan keikhlasan dalam bekerja untuk mencari ridho Tuhan.

Tinggalkan komentar