Pengalaman Tidak Bayar Pinjaman Online, Dikejar-Kejar!

By | Maret 21, 2020

Sejak lahir, pada dasarnya kebutuhan kita sudah terpenuhi. Orang tua yang menyediakan semuanya untuk kita. Kebanyakan dari kita tidak memusingkan perkara keuangan. Semakin kita beranjak besar, kebutuhan dan keinginan rasanya semakin banyak. Jika saat kita bayi mungkin kebutuhan kita sebatas susu dan popok, kita sudah merengek dibelikan mainan saat anak-anak.

Baca Juga : Pengalaman Investasi Reksadana Bukalapak, Menguntungkan?

 

Beranjak remaja, kita mulai berani minta dibelikan gadget. Hingga akhirnya dewasa, memasuki dunia kerja, orang tua pun lepas tangan. Menganggap kita sudah mampu seutuhnya. Pada titik inilah kita diuji, apakah kita benar-benar sudah menjadi orang yang berhasil memenuhi kebutuhan diri kita? Ataukah kita masih perlu untuk ‘meminta’?

Kesulitan keuangan bukanlah hal yang diinginkan orang. Jika sudah menyangkut urusan ekonomi atau berbau-bau uang, rasanya agak tabu untuk diperbincangkan. Kebanyakan orang segan untuk membicarakan hal ini. Contohnya saja, ada mahasiswa yang kalau ditelepon orang tuanya, selalu mengatakan uang sakunya masih cukup. Padahal dia kebablasan berbelanja ini dan itu, hingga tekor di akhir bulan.

Baca Juga : Pengalaman Cicilan Tokopedia Solusi Asyik Tanpa Ribet!

 

Ada pula karyawan yang gajinya tak seberapa, namun merasa semua keinginannya dapat dipenuhi dengan cara mencicil dan menggesek kartu kredit. Belum lagi banyak kasus-kasus lain rata-rata punya akhir kisah yang sama: bad ending.

Salah satu kisah kesulitan keuangan yang pernah saya dengar adalah dari teman saya sendiri. Dia adalah kakak tingkat saya. Kami berteman cukup baik, walau sebenarnya juga tak bisa dibilang sangat dekat. Awalnya saya mengira ia adalah orang yang hidup berkecukupan. Sudah punya penghasilan sendiri, gaya hidupnya yang dipamerkan di media sosial pun terlihat lumayan mewah. Baju yang dipakainya tak pernah ada yang sama. Akhir tahun sering saja memamerkan foto liburan.

Baca Juga : Pengalaman Menabung Emas di Pegadaian, Begini Caranya!

 

Tahu-tahu, suatu hari, ada sebuah chat mencengangkan yang masuk ke telepon saya. chat tersebut dikirim dari nomor tak dikenal. Isinya sebuah foto dan beberapa kalimat yang awalnya saya kira hoax. Tentu saja chat tersebut tidak dapat saya tampilkan di sini, namun yang pasti, ada foto teman saya yang sedang memegang KTP. Data dan wajahnya terlihat nyata.

Chat tersebut ternyata dikirimkan dari salah satu pinjaman online. Dikatakan bahwa teman saya ini meminjam sejumlah uang kepada pihak mereka. Akan tetapi, ia tidak melunasi pembayaran meski tenggat waktu telah tiba. Pihak pinjaman online tersebut pun memutuskan untuk menghubungi kontak dari teman saya ini, yang salah satunya adalah saya.

Langsung saja saya menghubungi teman saya, minta pembenaran. Meski awalnya ragu, akhirnya ia menjelaskannya kepada saya. Singkat cerita, benar bahwa teman saya ini telah melakukan pinjaman secara online.

Awalnya, ia sedang kesulitan dalam membayar tagihan cicilan. Setelah tak kunjung mendapat pinjaman, akhirnya dia pun memutuskan meminjam uang secara online. Caranya sendiri cukup mudah.


Banyak aplikasi atau situs peminjaman uang yang menawarkan peminjaman dengan syarat-syarat mudah. Cukup bermodalkan KTP dan mengisi data diri, uang jutaan rupiah pun siap dipegang. Rata-rata juga sudah tersertifikasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Teman saya pun meminjam uang untuk membayar tagihannya. Istilahnya, gali lubang tutup lubang. Pemasukkannya per bulan ternyata tidak cukup untuk membayar kebutuhan sehari-hari, cicilan yang masih ada, sekaligus bersama utang yang dipinjam secara online.

Berbasis online, teror pun ternyata bukan tak mungkin terjadi. Bedanya, bukan dikejar-kejar oleh debt collector yang datang ke rumah, pinjaman online ini mencoba menghubungi kontak yang pernah teman saya berikan. Rupanya orang tua, saudara, dan beberapa teman lainnya juga mendapatkan chat seperti yang saya dapatkan.

Malu? Tentu saja. ‘Aib’nya meminjam uang jadi diketahui tidak hanya keluarga, tetapi juga orang luar seperti saya. Masalah terbesarnya justru bukan itu. Jika pihak pinjaman online ini memiliki data teman saya (bahkan disertai saat dia berfoto bersama KTP-nya), takutnya data tersebut bisa disalahgunakan oknum tertentu.

Sebelum kasus ini semakin melebar, akhirnya teman saya berhasil melunasi pinjaman online-nya (lagi-lagi) melalui peminjaman. Ada saudaranya yang berbaik hati menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu teman saya. Mau bagaimana lagi? Namanya juga saudara sendiri. Daripada nantinya takut datanya disalahgunakan, atau malah dibawa ke pihak berwajib, lebih baik diatasi secepat mungkin.

Kisah teman saya ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. Sebisa mungkin, hindari yang namanya utang. Tidak ada yang bagus dari itu. Namun jika memang harus meminjam, berusahalah pula untuk meminjam sesuai batas kemampuan. Artinya, jika tahu kita hanya mampu membayar sekian, jangan coba-coba meminjam lebih banyak. Efeknya bukan sehari-dua hari, bisa jadi berbulan-bulan ke depan baru timbul masalah.

Bukan berarti kita tidak boleh meminjam uang sama sekali, ya. Jika ingin meminjam uang secara online, cermati penyedia layanan ini. Cari tahu apakah diawasi oleh OJK, dan jika diklaim sudah terverifikasi, pastikan bahwa itu benar-benar nyata, bukan sekadar pengakuan dari oknum pinjaman tersebut.

Selain itu, cari juga lebih banyak informasi mengenai peminjaman yang pernah dilakukan. Jika banyak yang memberikan respons positif, setidaknya peminjaman bisa dilakukan dengan lebih aman. Pelajari baik-baik sistem pembayaran, bunga, lama cicilan, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *